Minggu, 09 Desember 2012

PANANRANG (Lontara’ Bugis; Berkaitan Siklus Iklim dalam Pertanian)


Bahasa, Kesusastraan dan Kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis Purba) adalah suatu obyek penelitian yang cukup menarik untuk kajian subyek ilmu, akan tetapi publikasi tentang bahasa, kesusastraan dan kebudayaan tersebut sampai sekarang masih terlantar. (Mattulada: 1975)

Masyarakat Sulawesi Selatan adalah masyarakat yang majmuk dan hetrogen, seperti juga sebagaian propinsi lain di Indonesia. Kemajmukan ini ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan social yang bedasarkan suku, agama, adat-istiadat dan budaya serta daerah geografis. Disamping itu, secara vertical struktur masyarakatnya juga ditandai oleh adanya pelapisan social.(Koentjaraningrat, 1992: 4) 
Masyarakat atau suku yang beragam itu, tumbuh menurut sistem nilai budaya atau aturan adat yang berlaku dalam masyarakat tersebut, tertulis maupun yang tidak tertulis
Tradisi tulis di Sulawesi Selatan dimulai jauh sebelum masuknya Agama Islam di daerah ini. Naskah-naskah kuno pada umumnya menuturkan berbagai kisah yang sama sekali tidak menyinggung tentang Islam ataupun ajarannya. Hal ini membuktikan bahwa naskah tersebut ditulis sebelum abad XVII. 
Bahkan naskah-naskah Lontara’ Bugis (aksara
Lontara’) yang ditulis pada abad XIII atau XIV M. dalam pengkisahannnya terungkap nama Majapahit dalam ceritanya. (Tim Penyusun Catalog, 1994: 1)
Tradisi tulis bagi Suku Makassar sebelum mengenal akasara lontara’, telah mengenal aksara Jangan-Jangan yang sering dipergunakan dalam lingkup Istana dan para pemangku adat. Akasara Jangan-Jangan ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan aksara Kawi. Salah satu bukti kuat yang perna ditemukan pada penggalian reruntuhan Benteng Somba Opu yang didirikan oleh Raja Gowa IX I Manguntungi Daeng Matanre Karaeng Tumaparisi Kallonna dengan ditemukannya sebuah batu bata yang bertuliskan aksara Jangan-Jangan. oleh para ahli diperkirakan penggunaannya sekitar abad IX. Sedangkan aksara Lontara’ yang dipergunakan di Sulawesi Selatan sampai sekarang sangat erat kaitannnya dengan aksara Kaganga (Sumatra).
Tradisi tulis atau naskah-naskah klasik di Sulawesi Selatan (Suku Bugis, Makassar termasuk Mandar), pada awal penulisannnya mempergunakan media daun lontar kemudian disalin atau ditulis ke dalam media kertas, yang memuat berbagai kearifan local dan nilai-nilai tradisi masyarakat. Naskah-naskah tersebut dianggap sebagai milik bersama karena ia bertumbuh dari suatu keasadaran kolektif yang kuat dari masa silam dan mencakup berbagai aspek kehidupan.
Memasuki alam pernaskahan di Sulawesi Selatan bagaikan memasuki hutan belantara didalamnya terdapat mutiara bertatakan zamrud, semakin kedalam semakin terkuak akan kekayaan yang tak ternilai. Naskah-naskah tersebut memuat berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari filsafat, astronomi, ekonomi, filsafat, pertanian, hukum, tasawuf, dan sebagainya.
Naskah-naskah klasik di Sulawesi Selatan, menurut jenis dan isinya dapat dikategorikan antara lain Lontara’ Patturiolong/ade’ (memuat tentang aturan-aturan hukum dalam hubungan sosial kemasyarakatan), Lontara’ Pabbura (memuat tentang ramuan-ramuan obat/obat-obatan), Lontara’ Bilang (memuat tentang catatan harian/agenda peristiwa pwnting dalam kerajaan), Pappaseng (memuat tentang pesan-pesan/nasehat orang-orang bijak), Kutika (memuat tentang waktu/hari yang baik dan buruk atau tentang nasib dan peruntungan), dan Lontara’ Laongruma/Pananrang (memuat tentang tata cara bercocok tanam, iklim dan curah hujan). (H.Johan Nyompa, 1986: 4)
Keberadaan naskah-naskah klasik tersebut, secara fisik sebagian masih dibisa ditelusuri, meskipun sangat memprihatingkan baik dari bahan maupun dari segi perlakuan terhadap naskahnya, akan tetapi pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat masih sangat besar, terutama naskah-naskah yang berhubungan dengan tata cara bercocok tanam (Pananrang).
Kabupaten Soppeng sebagai salah satu lumbung padi dan penghasil padi kwalitas terbaik di Sulawesi Selatan, Masyarakat petani di daerah ini masih menjadikan Pananrang atau Lontara’ Laongruma sebagai pedoman dalam bercocok tanam bahkan dalam kehidupannya sehari-hari.

Pananrang disingkat PNR atau biasa disebut Lontara’ Laongruma adalah naskah yang memuat tentang tata cara bercocok tanam, perubahan iklim, siklus musim tanam, baik tanaman palawija maupun tanaman padi. Naskah ini juga memuat tentang prakiraan serangan hama tanaman bila ditanam pada waktu tertentu dalam bulan-bulan tertentu, dan bahkan juga dapat diprediksi musim-musim wabah penyakit (sai =Bugis).

PNR naskahnya jamak (tidak tunggal), masing-masing daerah kabupaten yang didiami suku Bugis mempunyai Pananrang sendiri, bahkan dibeberapa kampung atau rumpung keluarga mempunyai pananrang tersendiri yang diwarisinya secara turun temurun dan menjadi pedoman dalam mengelola dan menggarap lahan pertaniannya.
Salah satu naskah PNR yang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat di Lajjoa(salah satu kampung yang berada dalam wilayah Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan), yang menjadi kajian penulis dari 5 (lima) buah naskah panarang yang menjadi bandingan.

Naskah PNR ini, berbahasa Bugis dengan aksara Lontara’, berukuran 15 x 21 dengan tebal 22 halaman, setiap halaman terdiri atas 14-15 baris, yang bersampul karton tebal dijilid benang, lengkap dan sangat jelas, dan tidak ada penulis atau penyalinnnya. Naskah PNR diwarisi secara turun temurun dalam keluarga, dan tersimpang dengan baik oleh pemiliknya, naskah yang dibaca hanya naskah salinan.
Naskah PNR ini, tidak ada mukaddimah langsung pada isi naskah yaitu: 

Ompona Muharram = Terbitnya bulan muharram.
Apabila terbitnya bulan muharram jatuh pada:
  1. Hari Sabtu; maka musim dingin akan panjang, panen padi melimpah ruah, dan tentram kerajaan.
  2. Hari Ahad; musim sangat dingin terutama yang tinggal dibantaran sungai, serta buah-buahan melipah ruah.
  3. Hari Senin; wabah penyakit meraja lela, banyak orang yang meninggal, kurang curah hujannnya, banyak orang yang melahirkan anaknya laki-laki, terjadi keresahan atau kesusahan dalam kampong.
  4. Hari Selasa; tidak ada hasil pada musim timur, banyak curah hujan dan petirnya, banyak orang yang sakit akan tetapi tidak sampai meninggal.
  5. Hari Rabu; musim dinginnya kurang, mudah mencari reseki.
  6. Hari Kamis; tidak ada hasil pada musim timur, banyak orang yang melahirkan dan buah-buahan melipah.
  7. Hari Jumat; para pedagang bakal meraup keuntungan besar, bahkan semua orang meskipun yang lemah juga tetap ada reskinya, hasil panen juga melimpah, serta buah-buahan juga melimpah.
Disamping itu pada pembahasan selanjutnya dijelaskan tentang terbitnya bulan dari penanggalan satu sampai tiga puluh :

  1. Tanggal 1;Esso annyaranngi; tidak baik untuk merantau, baik untuk urusan pemerintahan, hari kelahiran Adam
  2. Tanggal 2 ; Esso jongai asenna; baik untuk perkawinan, baik untuk jualan, hari kelahiran Hawa
  3. Tanggal 3 ; Esso sikui asenna; tidak baik untuk semua jenis pekerjaan,
  4. Tanggal 4 ; Esso meongngi asennna; baik untuk membangun rumah, pernikahan
  5. Tanggal 5 ; Esso ulai asenna; semua yang dikerjakan tidak baik, tenggelamnya nabi Nuh
  6. Tanggal 6 ; Esso tedongngi asenna; baik untuk pembelian kerbau, tidak baik untuk merantau, dan membeli pakaian
  7. Tanggal 7 ; Esso balawoi asennna; bila beutang tidak dapat diabayar
  8. Tanggal 8 ; Esso Banua alipengngi asennna; baik untuk bepergian, pernikahan.
  9. Tanggal 9 ; Esso nagai asenna; bagus untuk bepergian
  10. Tanggal 10 ; Esso nagai asenna; baik untuk meratau, mendirikan rumah, menanam
  11. Tanggal 11 ; Esso macangngi asenna; hari masuknya surga Nabi Adam, baik untuk kembali ke pantai
  12. Tanggal 12 ; Esso macangngi asenna; baik untuk jaual-jualan
  13. Tanggal 13 ; Esso gajai asenna; tidak baik untuk merantau, kurang kebaikan.
  14. Tanggal 14 ; Esso pulandoi asenna; baik untuk semua pekerjaan keculai merantau
  15. Tanggal 15 ; Esso balei asenna; baik untuk membuat perahu
  16. Tanggal 16 ; Esso bawi asenna; baik untuk menanam dan tidak dengan yang lainnya
  17. Tanggal 17 ; Esso jarikaniai asenna; baik untuk semua pekerjaan termasuk merantau, melamar, menghadap Raja.
  18. Tanggal 18 ; Esso balipengngi asenna; baik untuk merantau, pernikahan, mendirikan rumah, dan menanam.
  19. Tanggal 19 ; Esso lawenngi asenna; bagus untuk melamar
  20. Tanggal 20 ; Esso ala-alai asenna; baik untuk melamar orang akan senang menerima kedatangan kita.
  21. Tanggal 21 ; Esso nahase; kurang kebaikannnya
  22. Tanggal 22 ; Esso assiuddaningeng asenna; baik untuk merantau, mendirikan rumah, pernikahan, dan menanam
  23. Tanggal 23 ; Esso ilesso’I asenna; baik untuk merantau, menanam, pernikahan, dan tidak baik untuk yang lain.
  24. Tanggal 24 ; Esso pariai asenna; kurang kebaikan
  25. Tanggal 25 ; Esso Pasessoroa asenna; kurang kebaikan
  26. Tanggal 26 ; Esso suniai asenna; baik untuk merantau,menanam, kalau berutang akan cepat dibayar, baik untuk nelayang
  27. Tanggal 27 ; Esso ulai asenna; semua yang dikerjakan akan baik, merantau, menanam, kalau berutang akan cepat dibayar
  28. Tanggal 28 ; Esso Alapung asenna; semua yang dikerjakan akan baik, merantau, menanam, kalau berutang akan cepat dibayar
  29. Tanggal 29 ; Esso itii asenna; tidak baik untuk merantau, kurang kebaikan.
  30. Tanggal 30 ; Esso nanu’ asennna; baik untuk menebang kayu, tidak dimakan rayap, kalau ada anak yang lahir akan murah reskinya.
Dan pada halaman terakhir termuat kutika (prakiraan bila seseorang akan bepergian atau hendak melaksanakan hajatan), maka waktu-waktu tertentu dalam setiap harinya harus dipelajari. Dalam naskah PNR ini setiap hari mulai jumat sampai kamis dibagi kedalam lima waktu yaitu pagi, antara pagi dan tengah hari (abbue-bueng), tengah hari, lewat tengan hari, dan sore hari. Masing-masing waktu tersebut.

Khasanah naskah klasik Bugis-Makassar yang jumlahnya sangat banyak, memerlukan perhatian yang serius bukan hanya dari pelestarian benda materialnya akan tetapi perlu pengkajian yang mendalam dari aspek contens kandungan maknanya, karena naskah-naskah tersebut sangat terkait dengan berbagai disiplin ilmu seperti sastra, filsafat, hukum, ekonomi, astronomi, falak, pertanian, dan bidang keagamaan. Apa yang disinyalir oleh Cak Nur bahwa jumlah naskah “kita” yang besar itu, bukan hanya ratusan ribu, bahkan jutaan dalam berbagai bidang keilmuan, pasti didukung oleh jumlah ilmuan yang besar pula. Di Sulawesi Selatan dikenal nama-nama separti Kajao Laliddong (Bone), La To Baja (Soppeng), Nenek Mallomo (Sidrap), Ammana Gappa (Sidrap), Syekh Yusuf al-Makassari (Gowa) dan masih banyak lagi yang lainnnya.

Bahwa tradisi penyalinan naskah-naskah di Sulawesi Selatan dari waktu kewaktu, dilakukan oleh murid-murid untuk kepentingan belajar, maupun dilakukan oleh “tukang-tukang salin” atau dikenal dengan sebutan “Pallontara’”untuk kepentingan pribadi, komersial dan pemerintahan. Disetiap kerajaan local terdapat jabatan yang disebut “juru tulisi” yang bertugas sebagai pencatat peristiwa penting atau keputusan raja, baik masalah pemerintahan dalam Lontara’ Bilang, maupun masalah social dan pertanian dalam “Pananrang”. Jabatan juru tulisi kini telah tiada, yang ada hanyalah Pallontara
itupun jumlahnya sangat sedikit dan berkarya dan menulis bidang-bidang tertentu, untuk kepentingan pribadi dan keluarga saja.

Bahwa naskah PNR mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalah kehidupan masyarakat Soppeng, karena masih diyakini mempunyai manfaat yang sangat besar dalam siklus iklim pertanian.

Bahwa penelitian naskah di Sulawesi Selatan masih banyak hal-hal khusus yang belum terjangkau untuk dipaparkan sebagai temuan penelitian, seperti masalah kepemimpinan, kedudukan wanita, pendidikan anak, perekonomian, perbintangan, pelayaran, obat-obatan dan sebagainya. Hal-hal khusus itu sangat unik dan spesifik disebutkan dalam naskah. Dengan demikian naskah lontara’ Bugis- Makassar tetap menarik perhatian para peneliti untuk menjadikannnya sebagai obyek penelitian dari berbagai pendekatan.

Bahwa naskah-naskah klasik direkomendasikan untuk dijadikan obyek telaah dan kajian dari dua sisi; sisi pertama, naskah dikaji dengan pendekatan filologi untuk pengembangan ilmu-ilmu lain yang terkait, seperti ilmu-ilmu social, antropologi dan ilmu agama islam; dan sisi kedua naskah dikaji dengan meletakkannya sebagai fenomena sejarah, sosial dan budaya masyarakat Bugis-Makassar, untuk menemukan jati dirinya sebagai warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua pendekatan ujung-ujungnya bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sesuai, metode dan prosedurnya sangat bermanfaat untuk dijadikan model pengambilan kebijakan di bidang pendidikan demokrasi, moral, hak azasi manusia dan pengukuhan persatuan yang berwawasan kebangsaan.

Wallahu a’lam bi sawab




Readmore »» PANANRANG (Lontara’ Bugis; Berkaitan Siklus Iklim dalam Pertanian)
Bacaan Selanjutnya - PANANRANG (Lontara’ Bugis; Berkaitan Siklus Iklim dalam Pertanian)

Falsafah Hidup Orang Bugis (Antara Nostalgia Sejarah dan Realitas Sekarang)


Falsafah hidup secara fundamental, dipahami sebagai nilai-nilai sosio kultural yang dijadikan oleh masyarakat pendukungnya sebagai patron (pola) dalam melakukan aktivitas keseharian. Demikian penting dan berharganya nilai normatif ini, sehingga tidak jarang ia selalu melekat kental pada setiap pendukungnya meski arus modernitas senan-tiasa menerpa dan menderanya. Bahkan dalam implementasinya, menjadi roh atau spirit untuk menentukan pola pikir dan menstimulasi tindakan manusia, termasuk dalam memberi motivasi usaha.

Mengenai nilai-nilai motivatif yang terkandung dalam falsafah hidup, pada dasarnya telah dikenal oleh manusia sejak masa lampau. Tatkala zaman “ajaib” berlangsung yakni lima hingga enam ratus tahun sebelum masehi, di seluruh belahan bumi muncul orang-orang bijak yang mengajari manusia tentang cara hidup. Orang India memiliki tokoh spiri-tual bernama Buddha, di Parsi bernama Zarasustra, di Athena ada Socrates, serta dalam masa yang sama Lao-Tse dan Confucius juga mengajar cara hidup di Tiongkok. Entah karena diilhami oleh petunjuk Yang Maha Kuasa atau alam mitologi maupun setting ling-kungan tertentu (dominasi alam), tetapi yang pasti bahwa mereka telah menunjukkan buah pikir yang sangat luar biasa di tengah keterbatasan sumber literatur.
Tak terkecuali orang Bugis, di masa lampau juga telah memiliki sederet nama orang bijak yang banyak mengajari masyarakat tentang filsafat etika. Hal ini tercermin melalui catatan sejarah bahwa perikehidupan manusia Bugis sejak dahulu, merupakan bagian integral dan tidak dapat dipisahkan secara dikotomik dari pengamalan aplikatif pangaderrang. Makna pangaderrang dalam konteks ini adalah keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan ter-hadap pranata sosialnya yang membentuk pola tingkah laku serta pandangan hidup. Demikian melekat-kentalnya nilai ini di kalangan orang Bugis, sehingga dianggap berdosa jika tidak melaksanakan.
Dalam konteks ini, inklusif di dalamnya ade’ (ada’, Makassar) atau adat istiadat, yang berfungsi sebagai pandang-an hidup (way of life) dalam membentuk pola pikir dan mengatur pola tingkah laku manusia dalam kehidupan ber-masyarakat dan bernegara. Karena itu, dalam sistem sosial masyarakat Bugis, dikenal ade’ (adat), rapang (undang-undang), wari (perbedaan strata) dan bicara (bicara atau ucapan), serta sara’ atau hukum ber-landaskan ajaran agama.

Pengamalan secara aplikasi-implementatif pangaderrang sebagai falsafah hidup orang Bugis, memiliki 4 (empat) asas sekaligus pilar yakni: 
  1. Asas mappasilasae, yakni memanifestasikan ade’ bagi keserasian hidup dalam bersikap dan bertingkah laku memperlakukan diri-nya dalam pangaderrang
  2. Mappasisaue, yakni diwujudkan sebagai manifestasi ade’ untuk menimpahkan deraan pada tiap pelanggaran ade’ yang dinyatakan dalam bicara. Azas ini menyatakan pedoman legalitas dan represi yang dijalankan dengan konsekuen; 
  3. Mappasenrupae, yakni mengamal-kan ade’ bagi kontinuitas pola-pola terdahulu yang dinyatakan dalam rapang; 
  4. Mappalaiseng, yakni manifestasi ade’ dalam memilih dengan jelas batas hubungan antara manusia dengan institusi-institusi sosial, agar terhindar dari masalah (chaos) dan instabilitas lainnya. Hal ini dinyatakan dalam wari untuk setiap variasi perilakunya manusia Bugis.


Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam falsafah hidup orang Bugis tersebut, menarik dihubungkan dengan etos kerja orang Wajo sebagai sebagai salah satu pendukung kebudayaan Bugis di jazirah Sulawesi Selatan.

Eksistensi Falsafah Hidup

Pentingnya peran adat (ade’) sebagai falsafah hidup, di antaranya tercermin melalui kalimat: “Maradeka To WajoE Adenami Napopuang” (hanya tanah atau negeri yang abadi yang siempunya tanah merdeka semua, hanya adat yang mereka pertuan). Hal ini sejak lama menjadi prinsip dan kewajiban dalam kontrak sosial antar Arung Matowa (raja) dengan rakyatnya.

Eksisnya nilai sosio-kultural yang terkandung dalam pangaderrang, sehingga tetap bertahan dan menjadi pandangan hidup manusia Bugis disebabkan dua faktor. Pertama,bagi manusia Bugis yang telah menerima adat secara total dalam kehidupan sosial budaya atau lainnya, konsisten atau percaya dengan teguh bahwa hanya dengan berpedoman pada adat, ketentraman dan kebahagiaan setiap anggota dapat terjamin.Kedua, implementasi dengan berpedoman pada adat itulah yang menjadi pola tingkah laku dan pandangan hidup bermasyarakat.

Kecenderungan orang Bugis merefleksikan petuah atau nasehat serta wejangan para cerdik pandai sebelumnya, tidak lantas membuat mereka alergi dengan perubahan. Bahkan sebaliknya, kolaborasi-akumulatif antara nilai pangaderrang dengan syara’(agama) pada gilirannya menjadi benteng pertahanan tangguh terhadap institusi dari dominasi westernisasi dalam paket sekularisme. Mengenai Pentingnya peran agama dalam memfilter pengaruh sekularisme akibat modernisasi, sebenarnya telah mendapat perhatian serius sejak lama. Sebut saja Donald E. Smith, pernah menguraikan hal ini dalam buah penanya “Agama dan Modernisasi Politik: Suatu Kajian Analitis” (1985).

Masuknya pengaruh Islam secara adaptif dalam sistem nilai pangaderrang dan kemampuan merespon perubahan zaman di kalangan orang Bugis, pada gilirannya melahirkan pemaknaan ter-hadap institusi sosial sebagai warisan leluhur pun berbeda. Mungkin ada yang masih tergolong fanatik mengamalkan nilai-nilai ini, semi percaya, dan ada yang cenderung telah mengabaikannya. Meskipun demikian, bukan persoalan level pemaknaan yang menjadi inti kajian ini, akan tetapi bagaimana nilai sebuah pesan itu mampu menjadi pandangan hidup dan spirit usaha.

Falsafah orang Bugis yang pada gilirannya menjadi pandangan hidup dan pola perilaku, sebagian dapat kita temukan melalui Lontarak Pammulanna Wajo yang memuat petuah-petuah Puang ri Maggalatung. Tentang etos kerja orang Bugis disinyalir merupakan bagian makna siri’ dalam implementasinya.

Pentingnya aplikasi makna siri’‘ terhadap para penguasa (raja-raja) Wajo, tertera dalam pesan Puang ri Maggalatung: Padecengiwi bicara-e, Parakai ampe-ampe malebbi-e, Gau-gau lalo’ tennga-e, Pari tengngai bicara ri tennga-e. Pesan ini bermakna “perbaiki cara bicara jika berbicara, perbaiki tingkah laku mulia dan terhormat, gerak langkah sederhana atau tidak angkuh dan tidak sombong, tempatkan di tengah untuk pembicaraan di tengah, tidak melebihi, tidak memihak sebelum mengetahui posisi kebenarannya”.

Nilai-nilai filosofis tersebut, sebagian diwariskan dalam bentuk tertulis melalui lontarak, dan ada pula melalui pesan-pesan (Pappaseng) dan petuah (pappangaja). Sekadar untuk diketahui bahwa beberapa pendukung kebudayaan di Sulsel juga mengenal dan menghargai pesan leluhur, seperti: orang Toraja menyebutnya dengan aluktudolo, orang Kajang mengistilahkan dengan pasang, orang Bugis menamakan pappaseng, dan lain-lain .

Uraian mengenai pesan Puang Ri Magalatung tersebut, pada gilirannya menjadi pedoman hidup orang Bugis dalam beraktivitas tak terkecuali kegiatan usaha. Hal ini sejalan dengan asumsi bahwa untuk menjalankan aktivitas usaha (perdagangan) jenis apapun, tidak hanya dibutuhkan modal finansial. Akan tetapi sejumlah modal sosial(social capital), juga mutlak dimiliki terutama dalam menjalin interaksi sehingga antara produsen atau supplayer dengan konsumen atau user (pembeli; pemakai) dapat terjalin harmonis.

Bicara (cara bertutur kata), juga merupakan modal utama dalam kegiatan usaha dan bahkan menjadi faktor penentu terjalin dan terciptanya koneksitas. Batapa tidak, kemampuan (strategi) berkomunikasi memegang peranan penting untuk menarik minat melalui sejumlah kesan bersahabat yang diciptakan secara ekspresif.
Demikian pula ampe (tingkah laku; tempramen), memegang peranan signifi-kan sebab hal ini merupakan penentu lahirnya daya pikat dan ketertarikan orang lain atas seseorang yang membutuhkan. Karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat di kalangan orang Bugis Wajo, mengenal konsep sipakatau (memanusiakan sesama), sipakalebbi (saling memuliakan), sipakainge (saling mengingatkan).

Etos Kerja dan Keberhasilan Usaha

Demikian penting dan berharganya pengamalan terhadap falsafah hidup, sehingga keberhasilan seseorang diukur berdasarkan beberapa parameter fungsional dalam masyarakat sebagai hasil usahanya. Dalam pengertian lain bahwa seseorang baru dikatakan sukses dalam berusaha, jika menempati elit stategik meliputi: 
  1. To-Mapparenta yakni pemegang kekuasaan atau petugas pemerintahan, 
  2. To-Panrita,yakni petugas kerohanian (tokoh spiritual) atau keagamaan, 
  3. To-Acca, yakni orang pandai atau cendekiawan sederhana, 
  4. To-Sugik, mapanre na saniasa yakni orang kaya, pengusaha yang terampil atau cekatan, dan 
  5. To-Warani Mapata’e yakni pemberani atau pahlawan yang selalu waspada. Hal tersebut menunjukkan bahwa parameter kesuksesan seseorang, ditentukan oleh 5 (lima) hal dan kekayaan menempati urutan keempat.


Kriteria To Sugik (orang kaya), telah ditetapkan menurut versi Lontarak sekaligus ukuran keberhasilan seseorang dalam berusaha. Dalam lontarak ditetapkan bahwa to sugikadalah orang yang selain memiliki kecakapan niaga, juga memiliki sendiri faktor yang diperguna-kannya seperti: modal, tanah persawahan, tanah perkebunan, empang (tambak), alat pengangkutan, dan lain-lain. Barulah seseorang dikatakan kaya, kalau sawahnya sendiri yang digarap, kerbaunya sendiri yang dipakai dan anaknya sendiri yang dijadikan gembala.

Dalam konteks kehidupan masyarakat modern seperti sekarang, ukuran (kriteria) keberhasilan usaha seseorang tentu saja ditakar melalui kategori usaha yang lain pula. Sebut saja keberhasilan seseorang sekarang, dilihat dari aspek kepemilihan usaha (alat produksi) yang dikelola sendiri. Demikian pula operasionalnya, menggunakan (melibatkan) tenaga anak sendiri atau keluarga dekat. Kecenderungan memilih tenaga kerja yang berasal dari lingkungan keluarga sendiri, tentu tidak hanya refleksi dari falsafah hidup atau pesan pendahulu. Akan tetapi, mereka telah menyadari pentingnya pengkaderan atau pewarisan jiwa usaha kepada keturunan demi kontinuitas jenis usaha yang ditekuni.

Pentingnya usaha dan kerja keras untuk memperoleh hasil (rezeki), telah dikemukakan sejak masa Puang Ri Magalatung, Matoa Wajo (1491-1521), bahwa: “rezeki berasal dari Tuhan, tetapi rezeki itu haruslah dicari”. Karena itu, tidak heran jika di kalangan orang Bugis, memiliki sebuah motto yang hingga kini masih terus didengungkan yakni: “resopa temmangingi namallomo naletei pammase dewata” Ungkapan ini bermakna “hanya kerja keras dan sungguh-sungguh yang mendapat rahmat dari dewata/yang maha kuasa”.

Prinsip kerja keras tersebut, juga dikawal oleh pesan leluhur lain berbunyi: “aja mumaelo natunai sekke, naburuki labo” (jangan terhina oleh sifat kikir dan hancur oleh sifat boros). Karena itu, Orang Bugis Wajo pada umumnya memegang pada prinsip Tellu Ampikalena To Wajo,E (tiga prinsip hidup) yaitu: Tau’E ri Dewata, siri’E ripadata rupatau, siri’E watakkale (Ketakwaan pada Allah SWT, rasa malu pada orang lain dan pada diri sendiri).

Penghormatan dan komitmen pada falsafah hidup sebagai pesan leluhur, juga tercermin melalui pengakuan seorang perantau bernama Pak Hasyim. Ia merupakan keturunan Pua’ dari Enrekang setelah merantau dan berlayar sebagai Kapten Kapal di Asia Tenggara, rupanya masih menghapal dengan mantap tentang ungkapan yang mengatakan: “Ri werenggi pole ri dewata-e, alebbireng koi ri luwu, asogireng koi ri wajo, awaraniang koi ri bone, awatangeng koi ri gowa”. Pernyataan tersebut, berarti: “dianegurahkan oleh dewata, kemuliaan pada Luwu, kekayaan pada Wajo, keberanian pada Bone, dan kekuatan pada Gowa.

Bila menggunakan hampiran teori Sibernetik tentang General System of Action, maka implementasi-aplikatif pesan leluhur sebagai sistem sosial sekaligus falsafah hidup, maka dapat dikatakan bahwa orang Bugis telah menjalankan fungsi sosialnya. Fungsi sosial yang dimaksudkan adalah: 
  1. Fungsi mempertahankan pola (pattern maintenance), yakni bersinggungan dengan hubungan suatu masyarakat sebagai sistem sosial dengan sub-sistem kebudayaan; 
  2. Fungsi integrasi, yakni meliputi jaminan ter-hadap koordinasi yang diperlukan antara unit-unit dari suatu sistem sosial, khusus yang berkaitan dengan konstribusinya pada organisasi dan peranannya dalam keseluruhan sistem; 
  3. Fungsi pen-capaian tujuan (goal attainment), yakni menyangkut hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial dengan sub-sistem aksi kepribadian untuk mencapai tujuan hidupnya; dan 
  4. Fungsi adaptasi, yakni menyangkut hubungan antara masyarakat sebagai suatu sistem sosial dengan sub-sistem organisme perilaku dan dengan dunia fisiko-organik. Fungsi adaptasi yang dimaksudkan dalam konteks ini, yakni proses penyesuaian masyarakat terhadap kondisi lingkungan tempat mereka melangsungkan kehidupan.


Keempat fungsi sosial sebagai karakter orang Bugis tersebut, pada gilirannya membuat terwariskan secara turun temurun sehingga masih tetap dikenal hingga sekarang. Demikian pula fungsi integrasi berarti sebuah rangkaian proses kehidupan yang dijalani oleh orang Bugis yang senantiasa berusaha semaksimal mungkin mengintegrasikan secara akumulatif nilai-nilai kultural sebagai identitas etnis dalam kehidupan ber-masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Adapun dua fungsi sosial lainnya yakni fungsi pencapaian tujuan berhubungan dengan cita-cita kolektif masyarakat yang ingin tetap menjadikan nilai-nilai ke-Bugis-an itu eksis di antara dominasi modernitas. Karena itu, cita-cita ingin menjadikan nilai-nilai luhur orang Bugis tetap menjadi pandangan hidup itulah yang menyebabkan sehingga siri’ tetap dijadikan sumber motivasi dalam keberhasilan usaha.

Demikian pula fungsi adaptasi berkaitan dengan kemampuan dan tanggung jawab kultural orang Bugis untuk tetap menyesuaikan diri secara adaptable dengan jiwa dan tuntutan zaman. Dalam pengertian bahwa pola adaptasi nilai-nilai budaya Bugis dilakukan melalui adopsi kultural yang dianggap relevan dengan kemajuan zaman, sehingga nilai-nilai kelampauan itu masih tetap up to date dan relevan dengan kehidupan dunia modern sekarang.

Tantangan dan Prospek

Spirit usaha (jiwa kapitalis) yang dimiliki oleh orang Bugis tidak dengan serta merta steril dari noda dalam wujud pengingkaran. Beberapa emage negatif di balik superioritas dan nama besar etnis ini, dalam perkembangannya sempat terbentang di mana-mana. Orang Bugis memang boleh bangga dengan predikat “Orang Cina-nya” Sulsel, dengan sejumlah sukses yang diraih dalam pengembangan usaha mulai dari kategori sederhana yang kompetitif hingga usaha skala besar yang “tak tertandingi”.

Di sisi lain, nama besar itu tercemar (jika dapat dikatakan demikian) oleh jargon seperti ungkapan bahwa Bugis itu adalah singkatan dari “Banyak Uang Ganti Istri”. Istilah yang sepintas hanya terkesan guyonan ini, rupanya bukan isapan jempol semata. Kecenderungan orang Bugis beristri lebih dari satu, telah mendapat perhatian serius sejak masa lampau. Kenyataan ini terbukti melalui salah satu materi pidato pelantikan “Matoa Wajo”, yang mengamanatkan: “boleh engkau belanjakan harta bendamu, dan pakai untuk berbini, namun janganlah sampai kamu menghabiskan modalmu dan bagi labamu”.

Peringatan Matoa Wajo tentang pentingnya strategi penggunaan uang dari usaha ini, menunjukkan bahwa salah satu penyebab tidak berkembangnya usaha seseorang karena faktor istri yang lebih dari satu (poligami). Bahkan kenyataan ini sekaligus membuktikan bahwa poli-gami, memang selalu identik dengan uang banyak (harta melimpah).

Meskipun demikian, ada anggapan yang cenderung apologik dan mungkin juga benar bahwa faktor penyebab orang Bugis khususnya dari kalangan bangsawan beristri lebih dari satu karena persoalan darah. Maksudnya, bahwa jika seorang anak gadis dikawini oleh lelaki yang berdarah bangsawan, maka ke-turunan (anak) yang dilahirkan kelak otomatis akan berdarah bangsawan.

Kesan buruk lainnya di balik sukses orang Bugis karena pengamalan falsafah hidupnya, juga tampak pada kesan bahwa jika sebuah usaha (industri) telah berkembang dan memerlukan modal besar serta pelibatan orang lain seringkali mengalami kegagalan. Fenomena ini, pada gilirannya melahirkan kesan bernada “degaga kongsi madeceng ri tana ugi” atau tidak ada perkongsian atau kerjasama yang berhasil di daerah Bugis.

Suatu cerita yang mencerminkan tabiat buruk pedagang Bugis juga dapat kita ketahui melalui kisah pedagang To-Welado. Suatu ketika saat sebuah rombongan pergi bersama-sama, muncul kesepakatan untuk diadakan kerjasama untuk menjaga keselamatan mereka. Ironisnya, yang termasuk dalam kesepatan itu hanya menyangkut keselamatan bersama tadi, sementara barang dagangan menjadi tanggung jawab masing-masing.

Makna kisah ini direfleksikan dalam terminologi bahasa Bugis berbunyi: “massilessureng watakkale, temmassilessureng waramparang” atau tubuh boleh bersaudara, namun harta tidak Dengan kata lain, bahwa meskipun seseorang itu ber-saudara kandung sekalipun, namun dalam melakukan usaha (berdagang) tidak mengenal saudara.

Kesan negatif seperti ini, hingga sekarang tampak masih menggejala sehingga tidak jarang dijadikan sebagai instrumen destruktif untuk mengalahkan lawan politik terutama yang berasal dari negeri Tosora ini. Karena itu, tidak heran jika kerap muncul di masyarakat anggapan bahwa para pedagang tidak boleh menduduki jabatan penting di pemerintahan, dengan pertimbangan bahwa apa saja dapat dijual untuk kepen-tingannya.

Hal ini mengkin berdasar pada ungkapan dalam Lontarak La Toa versi Wajo dikatakan: “salah satu tanda-tanda keruntuhan suatu negeri, apabila peme-rintah (pejabat pemerintah) ikut berdagang”. Sebaliknya, orang Wajo sendiri sering membela diri secara apologik bahwa hanya jika enterpreneur, seorang pemimpin dapat memanfaatkan semaksimal mungkin potensi alam yang dimiliki untuk kepentingan pembangunan.

Kesan dan anggapan negatif maupun bantahan atasnya tersebut, secara fundamental memiliki dasar argumentatif serta latar historis masing-masing. Karena itu, mengklaim mana yang benar dan yang salah, sepertinya kita tidak memiliki otoritas ilmiah karena harus berhadapan dengan jiwa zaman dan konteks historis yang saling berbeda. Dalam pengertian lain bahwa asbabul nuzul atau penyebab munculnya anggapan tidak boleh seorang pedagang menjadi pemimpin pemerintahan, mungkin disebabkan oleh adanya bukti empirik di masa lampau akan penyalahgunaan jabatan. Kemudian bantahan atas argumen tersebut, tentu wajar mengingat orientasi profit merupakan prasyarat mutlak untuk sebuah kegiatan pembangunan di era modern.

Mengenai eksistensi falsafah hidup, dapat ditelusuri secara historis melalui catatan sejarah yang menunjukkan bahwa perikehidupan manusia Bugis sejak dahulu, merupakan bagian integral dari pengamalan pangaderrang. Makna pangaderrang dalam koteks ini adalah keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya yang membentuk pola tingkah laku serta pandangan hidup. Melekatketalnya sistem norma di kalangan orang Bugis ini, sehingga dianggap berdosa jika seseorang tidak melaksanakan.

Dalam hubungannya dengan etos kerja dan keberhasilan usaha, maka seseorang baru dikatakan sukses dalam berusaha, jika menempati elit stategik meliputi: 
  1. To-Mapparenta yakni pemegang kekuasaan atau petugas peme-rintahan, 
  2. To-Panrita,yakni petugas kerohanian (tokoh spiritual) atau keagamaan, 
  3. To-Acca, yakni orang pandai atau cendekiawan sederhana, 
  4. To-Sugik, mapanre na saniasa yakni orang kaya, pengusaha yang terampil atau cekatan, dan 
  5. To-Warani Mapata’e yakni pemberani atau pahlawan yang selalu waspada. Hal tersebut menunjukkan bahwa parameter kesuksesan seseorang, ditentukan oleh 5 (lima) hal dan kekayaan menempati urutan keempat.


Dalam lontarak ditetapkan bahwa to sugik (orang kaya) adalah orang yang selain memiliki kecakapan niaga, juga memiliki sendiri faktor yang diper-gunakannya seperti: modal, tanah persawahan, tanah perkebunan, empang (tambak), alat pengangkutan, dan lain-lain. Barulah seseorang dikatakan kaya, kalau sawahnya sendiri yang digarap, kerbaunya sendiri yang dipakai dan anaknya sendiri yang dijadikan gembala
Di era modern seperti sekarang, ukuran (kriteria) keberhasilan usaha seseorang tentu saja ditakar melalui kategori usaha yang lain pula. Sebut saja keberhasilan seseorang sekarang, dilihat dari aspek kepemilihan usaha (alat produksi) yang dikelola sendiri. Demikian pula operasionalnya, menggunakan (melibatkan) tenaga anak sendiri atau keluarga dekat, adalah bentuk kesadaran akan pentingnya upaya pengaderan.

Selain kecenderungan beristri banyak, tantangan paling fundamental yang tidak kalah menarik yakni terjadinya kecenderungan di kalangan orang Bugis yang memilih jadi pejabat (penguasa). Akhirnya, dualisme orientasi dalam kehidupan seperti ini pada gilirannya berpotensi melahirkan semacam shiffing paradigm yang mengancam prospek jiwa wirausaha di kalangan orang Bugis. Akhirnya, nilai-nilai falsafah dan etos kerja ini seakan berada di antara nostalgia sejarah dan realitas sekarang.***

Readmore »» Falsafah Hidup Orang Bugis (Antara Nostalgia Sejarah dan Realitas Sekarang)
Bacaan Selanjutnya - Falsafah Hidup Orang Bugis (Antara Nostalgia Sejarah dan Realitas Sekarang)

Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – W. S. Rendra


Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta 
WS Rendra

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban
Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban
Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu
Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya
Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

Readmore »» Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – W. S. Rendra
Bacaan Selanjutnya - Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – W. S. Rendra

Renungan


Mengapa Tuhan menciptakan makhluknya berbeda-beda, mengapa mesti ada yang kuat ada yang lemah, mengapa mesti ada yang kaya ada yang miskin, mengapa mesti ada yang tampan dan cantik, dan mengapa mesti ada yang baik dan buruk.
          Coba liat goresan pena, bundar, bersih, tampa ujung dilihat dari mata kita, pada sehelai kertas putih. Di lihat dari segi mana pun tampak sama, rapi, bersih.
Tuhan menciptakan dunia ini dengan sedemikian rupa dan bentuk, kita sebagai makhluknya yang paling sempurnah di muka bumi ini patut bersyukur akan nikhmatnya, menjaga apa yang dititipkanya kepada kita.
Tuhan menciptakan dunia dan seisinya, dengan kodrat dan tugas masing-masing, bumi yang diciptakan berputar siang malam tampa henti, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, matahari menerangi dunia tampa henti baik itu siang maupun malam.
Tuhan memang maha besar dan maha pencipta, semua telah ditata dan di susun sedemikian sempurnahnya. Tapi mengapa mesti ada bencana, kematian, hambatan, cobaan, bagi makhluknya ?
Dan manusia diciptakan beragam perbedaan yang pada dasarnya sama. Hitam dan putih, miskin dan kaya, tinggi dan pendek, tampan dan cantik, bukankah itu hanya fisik semata?.
Kita sebagai makhluk tuhan perlu berpikir, apa yang telah kita berikan kepadanya ?, apakah kelak dia akan menagih apa yang dia berikan kepada kita ?, pernakah kita berpikir andai Tuhan mengambil apa yang ia berikan kepada kita ?.                 
Readmore »» Renungan
Bacaan Selanjutnya - Renungan

Formulir Sanggar Seni Panrita

Readmore »» Formulir Sanggar Seni Panrita
Bacaan Selanjutnya - Formulir Sanggar Seni Panrita

Rabu, 05 Desember 2012

Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik


Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik – Suku Ammatoa di Kajang memang menyimpan begitu banyak cerita bagi setiap pengunjungnya. keberadaannya yang cukup jauh dari kota membuat masyarakatnya masih menganut sistem tradisional baik dari segi ritual keagamaan ataupun sosial kehidupannya.

Etnis Amma Toa berada di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Letaknya kurang lebih 40 km sebelah timur Kota Bulukumba. Keunikan budayanya sudah terdengar hingga ke seluruh penjuru dunia. Keunikan ini pula yang membuat Kajang tiap tahunnya dibanjiri wisatawan mancanegara.


Orang Ammatoa betul-betul memegang teguh kitab lontara itu. Pasang ri Kajang menyimpan pesan-pesan luhur. Yakni, penduduk Tana Toa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan. Orang Ammatoa juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, dan tawakal. Pasang ri Kajang juga mengajak untuk taat pada aturan, dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya.



Masyarakat adat Ammatoa tinggal berkelompok dalam suatu area hutan yang luasnya sekitar 50 km. Mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang mereka yakini.


Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila kita memasuki kawasan ammatoa pakaian kita harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber kehidupan.
Suku Kajang dalam lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk kajang luar yang tinggal di luar perkampungan. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter. Dalam bahasa bugis Konjo yang kental merupakan bahasa suku yang selama ini sebagai media komunikasi antar sesama masyarakat suku kajang.
Salah satu model rumah yang berada dalam kawasan adat Ammatoa modelnya tampak pada gambar diatas, kehidupan yang begitu sederhana, jika masuk ke dalam rumah hal yang pertama dilihat adalah dapur, rumah model ini tidak memiliki teras atau beranda dan di dalamya tidak memiliki kamar tidur. Rumah Adat Suku Kajang bila kita melihat secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masayarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya
Bukan hanya itu segi pakaian pun cukup berbeda yang dikenakan oleh orang asli Ammatoa yang keseluruhannya berwarna hitam seperti terlihat pada foto disamping
Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh Laki-Laki, penutup kepala disebut Passapu dan sarung yang biasa juga disebut Tope Lelleng (sarung hitam)
Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh kaum perempuan yang smuanya juga berwarna hitam.
Begitu banyak Kebudayaan yang dimiliki oleh Masyarakat Bugis Makassar sudah sepantasnya lah kita melestarikan kebudayaan tersebut. Suku Kajang salah satu dari sekian banyaknya budaya nusantara yang masih kental akan adat istiadatnya
BULUKAMBA - Waktu masih menunjukkan sekira pukul 05.00 Wita, namun ratusan warga berpakaian serba hitam memasuki benteng yang merupakan tanah adat suku  Ammatoa Kajang, di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baju serba hitam itu merupakan ciri khas suku Ammatoa Kajang yang dinekanakan laki maupun perempuan. Dinginnya udara subuh, seakan tak dirasa. Di tangan mereka nampak sesajian berupa dedaunan yang sudah dikemas.

Ritual Pattasi Jera atau membersihkan makam di kawasan tanah adat merupakan prosesi wajib yang rutin dilaksanakan suku ini setiap tahunnya. Ritual ini sudah dilaksanakan turun-temurun sejak ratusan tahun silam, sejak Ammatoa pertama di Kajang. Acara ini dilakukan untuk menghargai dan mendoakan para arwah nenek moyang, maupun keluarganya yang dikubur di tempat itu.

Seluruh keluarga suku Ammatoa Kajang wajib menjalani ritual ini, baik mereka yang bermukim di luar Bulukumba, seperti Sinjai, Makassar, dan lainnya. Di kawasan Benteng ini terdapat makam Ammatoa Kajang, Bohe Tomi. Di sekeliling makam Ammatoa terdapat ribuan kuburan dengan nisan terbuat dari batu kali yang dijajar apik.



Luas kawasan pemakaman tersebut sekira dua hektare. Uniknya, kawasan ini banyak ditumbuhi tumbuhan liar dan pohon bambu, sehingga suasananya seperti di dalam hutan.

Prosesi ritual Pattasi Jera' dibuka langsung oleh Ammatoa Kajang serta seluruh pemangku adat Tanah Toa. Setelah itu baru dilakukan oleh suku lainnya. Kuburan yang wajib diziarahi atau dibersihkan terlebih dahulu adalah kuburan Ammatoa pertama, kemudian menyusul makam para pemangku adat serta makam masyarakat lainnya yang ada di dalam kawasan tersebut.

"Pattasi Jere' wajib dilakukan, karena ini rangkaian dari ajaran dari Ammatoa Kajang terdahulu yang kemudian diturunkan kepada suku lainnya di tanah adat," kata juru makam, Puang Bate (53), Selasa (29/5/2012).

Tokoh Masyarakat Suku Kajang, Hasanuddin, mengatakan ritual Pattasi Jera sudah dilaksanakan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Prosesi ini sebagai rangkaian ajang patuntung yang selama ini masih dipegang teguh masyarakat Kajang meski tidak bermukim lagi di kawasan tanah adat.

Seluruh masyarakat Kajang yang bermukim di kawasan tanah adat, sambungnya, memfokuskan diri melaksanakan ritual yang dilangsungkan selama satu hari.

"Seluruh aktivitas wajib dihentikan karena ini bagian dari ajang turun-temurun nenek moyang kita," ujarnya.

Menurut seorang pemuda Kajang, Asdar, budaya ini harus dilestarikan oleh seluruh masyarakat Kajang. Sebagian masyarakat Kajang saat ini sudah modern sehingga sangat gampang melupakan budaya yang harus tetap dilestarikan.

"Seiring terkikisnya tatanan budaya, saya harapkan kepada para generasi muda Kajang harus bersatu memertahankan budaya yang sudah mulai terkontaminasi oleh budaya modern," harapnya.

Readmore »» Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik
Bacaan Selanjutnya - Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik

Kajang, Kebudayaan yang masih terjaga.

Minggu pagi, tepatnya Minggu 2 Desember 2012 Mahasiswa STIKes Panrita Husada Bulukumba rincinya anak keperawatan yang memilih mata pelajaran Seni mengadakan Penelitian tentang daerah Kajang. ini merupakan suatu perwujudan suatu perhatian akan budaya yang kini mulai menipis. 
di zaman sekarang ini adalah zaman milinium ucap anak gaul jaman ini....heheheheh....
Pada penelitian ini diikuti oleh 42 mahasiswa tingkat satu  dan 4 orang tingkat dua. dan di dampini oleh Ayahanda Agusriadi Maula yang sekaligus sebagai pembina Sanggar Seni "Panrita". 

adapun tujuan penelitian kali ini  untuk mengenal budaya daerah saat ini yang mulai terkikis. singkat saja, Kajang yang terkenal akan kekentalan budaya tradisional yang masih terjaga khususnya di Sulawesi-Selatan paling selatan khususnya Bulukumba. Daerah yang terkenal akan pakaian serba hitam ini dan memakai "passapu" (ikat kepala) dan tidak memakai alas kaki ini memiliki suatu kebudayaan yang berciri khas dan terjaga dengan baik. Masyarakat suku Kajang ini berbahasa "Konjo" dimana memiliki kesamaan dengan bahasa Makassar. pemimpin di suku ini di Sebut "Amma' Toa" (yang artinya bapak tertua) dan daerah itu sendiri dinamakan "Tanah Toa" yang berarti Tanah yang tua. wilayah ini memiliki ciri khas yang tidak ada samanya di dunia ini, dimana pada saat masuk diwajibkan memakai pakaian serba hitam, dan tidak memakai alas kaki. selain itu masih banyak pantangan-pantangan yang lainya. Selain itu daerah Amma' Toa ini memiliki 4 gerbang masuk, atau di sebut eppa' sulapa. Lebih detailnya pemilihan Amma' Toa (sebutan untuk seseorang yang di anggap raja) sangatlah berat, menurut juru bahasa Amma' Toa bahwa untuk menjadi seorang ammatoa  "nisse' mittoppi  kabattuanna tauwwa mange' rilino saggenna konni-konni" (artinya harus mengetahui asal usul manusia sampai sekarang). Tapi menurut pngakuan Amma Toa' sendiri bahwa  " anakku rie' mmo kuliah ri makassara" (Artinya : Anak saya ada yang sudah kuliah di makassar, yakni UNISMU). ini meruupakan bukti bahwa pendidikan saat ini adalah suatu hal yang perlu diutamakan meskipun ketradisional suatu budaya tergores oleh tajamnya silet zaman.

di dalam kawasan ini, aktifitas masyarakat masih terjaga akan aturan dan ketradisionalannya. dimana masih menggunakan peralatan tradisional, contohnya saja memasak memakai tungku kayu, dan tidak memakai kompor gas dan minyak yang saat ini ramai dibicarakan kontrofersialnya. selain itu masih menggunakan pakaian yang ditenun sendiri  yang memiliki ciri khas yakni hitam. 

Menurut sumber dari masyarakat Tanah Toa.
bahwa kenapa penduduk di daerah ini tetap mempertahankan budaya leluhur mereka   "punna tau'  sulu'  na nakaluppai ada'nna, garringgi tao' mate'i" (artinya : karena biasa orang-orang yang keluar dan melupakan adat dan leluhur mereka, biasanya mereka akan sakit dan bahkan akan meningggal dunia), ini merupakan suatu kepercayaan spiritual yang sangat di luar nalar dan mereka pegang teguh sampai saat ini.
dan memiliki perkampungan yang sangat tradisional dimana belum tersentu akan nikmatnya listrik, bukan karena pemerintah tidak memperhatikanya, karena mereka mempertahankan peraturan adatnya.

ghbhghggg




Foto-foto anak tingkat 1 dan Sanggar Seni "Panrita"

 

























Bagi sahabat-sahabat yang belum masuk fotonya hub 085-213-907-828  dan 089-617-556-311 atau datang langsung ke sekretariat Sanggar Seni Panrita Jl Pahlawan, Depan Lapas Kab. Bulukumba .....
Makasi, Salam Sukses....
Sanggar Seni Panrita.....Kreasi Tanpa Batas

 








Readmore »» Kajang, Kebudayaan yang masih terjaga.
Bacaan Selanjutnya - Kajang, Kebudayaan yang masih terjaga.