Sabtu, 13 Oktober 2012

“Mengejar Matahari”


“Mengejar Matahari”
 Mentari pagi telah menampakkan sinarnya. Kuasan Sang Ilahi begitu cerah, tetesan embun menyejukkan insan dunia, hembusan udara pagi menyapu lembut helai-helai daun. Membuat keyakina hati untuk melangkah. Mimpi yang tertunda kemarin, hari ini dengan keteguhan hati dan ketulusan doa suka dan duka telah ku lihat didepan mata.
Itu semua telah menjadi bagian hidup, kadanga kita berada pada satu titik terendah namun itu bukanlah salah satu kelemahan kita tapi itu adalah untuk meraih titik yang tertinggi…
Hari itu menjadi sejarah terpenting dalam hidup Sumarni, karna setelah hari ini ia akan benar-benar menjalani jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Masa-masa kanak-kanaknya telah ia lewati dengan berbagai cerita mulai dari suka dan duka. Semua telah ia rasakan.
Hari ini hari pengumuman kelulusannya di SMA Negeri 1 Rawamangun.
Sumarni : ibu, malam ini bertanya sesuatu pada ibu, apa boleh?
Ibu : (sambil tersenyum) bertanyalah anak ku, apa yang ingin kau katakana?
Sumarni : begini bu, kemarin aku telah melewati  masa SMA ku dan aku mempunyai rencana ingin melanjutkan pendidikan ku ke jenjang lebih tinggi. Apakah ibu sanggup?
Ibu : iya anak ku, Ibu sudah mengerti maksud dari perkataan mu. Sebenarnya dari kemarin-kemarin ibu juga telah memikirkan hal ini.
Sumarni : jadi bagaimana keputusan ibu? Aku tak apa Bu jika harus tidak melanjutkan pendidikan ku. Apa lagi kakak juga sekarang sangat membutuhkan biaya untuk menyelesaikan kuliahnya.
Ibu : Tidak nak! Ibu akan berusaha semampu Ibu. Bagaimana pun caranya kalian harus tetap melanjutkan kuliah dan meraih cita-cita. Kuliah jugakan untuk masa depan kalian sendiri. Kita I I sudah hidup miskin apa lagi yang bisa kita banggakan selain dari ilmu.
            Ditengah perbincangan Sumarni dan Ibunya tiba-tiba terdengar deringan ponsel yang memecah keheningan malam.
Kring…kring…kring…kringg…kringg.
Ibu : coba lihat Nak, siapa tahu kakak mu yang menelpon.
Sumarni :iya bu.
Sumarni pun mengambil ponsel tersebut.
Sumarni : halo.
Salampe : marni berikan ponsel itu pada ibu. Aku ingin bicara.
Sumarni pun memberikan ponsel itu pada Ibunya..
Sumarni : ibu ini telpon dari kakak. Katanya ada yang ingin dibicarakan.
ibu mengambil ponsel itu.
Ibu : iya nak ada apa?
Salampe : begini Bu, kuliah saya kan sudah hampir selesai. Jadi saya butuh uang untuk menyusun skripsi. Bisa tidak Ibu mengirim uang besok. 2 juta. Tambahannya uang jajan saya juga sudah habis, ditambah lagi uang SMOKING dan online.
Ibu : Baiklah Nak, Ibu akan usahakan, semoga uangnya bisa saya kirim besok.
Salampe : oke Bu. Assalamu alaikum.
Pembicaraan Ibu dan Salampe pun berakhir.
Sumarni : apa kata kakak Bu? Apa dia baik-baik saja?
Ibu : ia anak ku, kakak mu baik-baik saja. Hanya saja dia meminta uang untuk keperluan akhir kuliahnya.
Sumarni : jadi bagaimana Bu?
Ibu : Besok Ibu berencana untuk menjual sepetak kebun yang yelah diwarisakan ayah mu, Ibu pikir itu cukup untuk biaya mu masuk kuliah dan juga untuk kakak mu.
Sumarni : tapi ibu, itukan warisan stu-satunya dari Ayah.
Ibu : Demi kau dan kakakmu, apa pun Ibu akan lakukan.
Sumarni : terima kasih Ibu, Sumarni janji akan bersungguh-sungguh dalam mancari ilmu.
(Sumarni mencium telapak tangan Ibunya)
            Esok hari, Ibu dan Sumarni pun berangkat ke rumah Tuan Tanah yang memang sebenarnya sudah lama menyampaikan keinginannya untuk membeli tanah Ibu Sumarni.
Ibu : Assalamu Alaikum… (3x)
Anak Tuan Tanah (Andi Lantung Petta Iman) membuka pintu… Alan membuka pintu dan langsung menatap Sumarni tanpa berkedip, ia begitu terpesona oleh keanggunan Sumarni.
Ibu : apakah Ayah mu ada di rumah? Bisa saya bertemu dengannya?
Alan pun langsung tersentak dari khayalannya tentang Sumarni…
Alan : Ada perlu apa dengan ayah ku? Ia sedang sibuk mengurus tanah-tanahnya.
Ibu : aku ingin membicarakan tentang tanah ku yang ingin ku gadaikan.
Alan : Ibu silahkan masuk dulu, saya akan memanggil Etta ku.
            Alan pun meninggalkan Sumarni dan Ibunya di ruang tamu untuk memanggil Ettanya yang berada di ruang tengah.
Alan : etta…. (memanggil berkali-kali dengan suara keras)
P. Iman : ada apa kamu ini Alan? Berteriak-teriak begitu, habis lihat setan kamu?
Alan : tidak Etta, ada tamu ta, mau ki na gadaikan tanahnya?
P. Iman : ummm…. Tunggu etta cuci tangan dulu. (Menuju ruang tamu menemui Ibu Sumarni….)
Sesampainya di ruang tamu, Ibu Sumarni pun langsung menagatakan niatnya untuk menggadaikan tanahnya.
Ibu : begini Pak, niat saya datang kesini untuk menggadaikan tanah yang pernah Bapak tanyakan waktu itu.
P. Iman : oh begitu, jadi kamu telah berubah pikiran untuk menjualnya?
Ibu : sebenarnya, saya belum berniat untuk menjual tanah itu, sekarang ini saya hanya ingin menggadaikannya karna sekarang saya benar-benar butuh uang untuk keperluan kuliah anak saya.
P. Iman : oh begitu, kalau digadaikan apakah kamu sanggup untuk membayarnya bunganya per bulan.
Ibu : Insya Allah, saya telah memikirkan itu. Keuntungan saya dari berjualan di pasar semoga mencukupi untuk membayar bunganya.
P. Iman : memangnya berapa uang yang Ibu butuhkan?
Ibu : saya butuh Rp.30.000.000.
P. Iman : Ibu ini bagaimana? Luas tanah itu kan tidak seberapa. Jadi saya hanya bisa memberikan Ibu Rp.20.000.000 dengan bunga Rp300.000 selama 3 tahun. Kalau Ibu mau saya akan mengambil dan memberikan uangnya sekarang juga pada Ibu.
Ibu : baiklah Pak saya setuju karna saya sangat butuh uang sekarang.
P. Iman : tunggu ya Bu. Saya memanggil anak saya dulu. Lantungggggggg…….!!!!! Ke sini bawakan Bapak buku catatan gadai tanah dan juga kalkulator. Kalkulator bapak simpan dilaci samping televisi.
Alan : ia Pak. (menjawab dari ruang televisi dan segera membawa buku dan kalkultor Bapaknya). Ini Pak, buku sama kalkulator ta.
P. Iman : ia. Sekalian juga panggil Asis, saya mau suruh ki pergi lihat itu tanah.
Alan : iya tapi tidak ku tau dimana ki Asis sekarang?
P. Iman : cari mi dibelakang rumah, ku suruh ki tadi bersihkan rumput.
(Alan pun pergi kebelakang rumah untuk memanggil Asis)
Alan : Asis tinggalkan mi dulu itu, ke ruang tamu sekarang na cari ki Bapak.
Asis : oh ie Tuan Muda. Tapi ini belum pi selesai.
Alan : biar mi karna ada hal penting, perintah dari Bapak.
(mereka berdua pun meninggalkan halaman belakang menuju ruang tamu)
Asis : ia Tuan, katanya Tuan memanggil saya?
P. IMan : sekarang pergi lihat tanah itu kemudian ukur, pasang patok sebagai tanda batas.
Asis : ia, Tuan.
            Setelah sepakat dengan Tuan Tanah akhirnya Sumarni dan Ibunya pulang ke rumah. Beberapa saat kemudian mereka pun telah sampai di rumahnya.
Sumarni : ibu bagaimana dengan uang yang akan dikirim ke kakak?
Ibu : tunggu dulu Nak, sebagian uangnya Ibu simpan dulu baru setelah itu kita ke kantor pos.
Sumarni : baiklah Bu.
            Seharian itu Sumarni dan Ibunya sangat sibuk setelah mengirim uang untuk Salampe mereka pun pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan pokok. Uang dari hasil gadai tanah mereka pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari namun ada sebagian yang Ibu Sumarni simpan untuk jaga-jaga biaya kuliah ke dua anaknya.
Malam hari….
Sumarni : Ibu bagaimana jika kita hubungi kakak untuk memberitahukannya bahwa uangnya telah dikirim.
Ibu : ia anak ku, tadi juga ibu berpikir begitu.
(Sumarni pun menghubungi kakaknya)
sumarni : halo, assalamu alaikum.
Salampe : ya, kenapa sudah mi dikirim?
Sumarni : ia, ini Ibu mau bicara. (memberikan ponsel pada Ibu)
Ibu : sudah  saya kirim uangnya, kamu bisa ambil di kantor Pos lalu bayar segala keperluan mu.
Salampe : ia Bu, nanti besok saya ke kantor Pos untuk mengecek apakah uangnya sudah ada atau belum.
Ibu : ia Nak. Bagaimana kabar mu anakku? Kamu sehat kan? Jangan sampai kamu mengabaikan kesehatan mu karna terlalu sibuk pada kuliah mu.
Salampe : Alhamdulillah Bu, anakmu di sini baik-baik saja. Ibu tak usah mengkhawatirkan ku, saya akan menjaga kesehatan. Ibu dan Sumarni bagaimana? Baik-baik saja kan?
Ibu : ia anak ku, aku dan adik mu sehat wal afiat. Besok adik mu akan pergi mengambil formulir, katanya dia juga ingin kuliah di Universitas yang sama dengan mu. Kalau bisa kamu jemput adik mu di terminal karna dia belum tahu jalan dan dia hanya sendiri dating ke kota.
Salampe : oh begitu, jam berapa Sumarni akan berangkat dari rumah karna besok saya juga punya jadwal kuliah.
Ibu : adik mu berangkat subuh karna ibu mengantarnya sampai ke terminal dulu lalu ibu akan ke pasar membuka jualan.
Salampe : ia Bu, saya akan usahakan datang ke terminal sebelum Sumarni tiba.
Ibu : baiklah Nak. Jaga adik mu. Hanya kamu yang bisa Ibu harapkan sebagai anak tertua, jadi kamu harus melindungi adik mu.
Salampe : baik Ibu. Aku akan menjaga adik di sini. (percakapan mereka selesai)
            Terdengar samar kumandang adzan,menyeru untuk menghadap Ilahi bersyukur untuk segala kenikamatan yang ia rezkikan kepada hamba-Nya kemarin dan umur yang masih Ia berikan pada kita hari ini untuk melakukan segala aktifitas dan ibadah. Kumandang adzan yang  begitu halus terdengar membangunkan Sumarni dari tidurnya semalam. Meski dingin subuh masih menggelayut tubuh, Sumarni dengan sigapnya bangun dari tempat tidur. Hari ini adalah hari pertama ia memasuki masa-masa kuliah, semangat yang begitu membara dalam dirinya dan kesungguhan untuk menuntut ilmu sehingga mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya nanti ia persiapkan sendiri tanpa merepotkan Ibunya. Namun sebelum itu ia melaksanakan kewajiban ibadah shalat Shubuh. Tak lupa ia juga membangunkan Ibunya untuk shalat berjamaah.
            (setelah shalat Ibu memberikan nasihat kepada Sumarni sebelum berangkat)
Ibu : anak ku kemarilah, Ibu ingin bicara padamu.
Sumarni : ia Ibu, setelah memasukkan buku ini. (menghampiri Ibu)
Ibu : anak ku, hari ini engkau akan berangkat untuk menuntut ilmu, disini Ibu akan mendoakan segala yang terbaik untuk mu dan juga kakakmu. Maka berikanlah yang terbaik untuk Ibu, jangan kecewakan Ibu karna Ibu sangat bangga pada kalian berdua. Setelah ini hari-hari Ibu akan menjadi sunyi, Ibu pasti akan sangat merindukan kamu Sumarni.
Sumarni : ia Ibu, aku memohon doa restu semoga perjalanan saya sampai akhir kuliah tak ada hambatan. Dengan doa restumu Ibu ku, aku siap menggapai impian ku dan membuat Ibu bangga. Aku juga pasti akan sangat merindukan Ibu. Ibu pada saat nanti aku kembali, aku akan membawakan tanda keberhasilan ku, ini mungkin belum cukup untuk segala apa yang telah Ibu korbankan kepada ku. Namun, sebagai anakmu dengan cara inilah aku dapat menunjukkan rasa sayang dan abdiku kepadamu Ibu….
Ibu : baik-baiklah engkau disana anakku, raih impian mu, kejar kebehasilan   mu. Ibu merestui mu.
Sumarni : ia Bu. Kalau begitu mari kita berangkat ke terminal. (Sumarni dan Ibunya meninggalkan rumah menuju Terminal)
            Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, dengan menumpangi mobil pengangkut sayur mereka pun tiba diterminal tepat pukul 06.00. sambil menunggu mobil yang akan ditumpangi Sumarni ke kota mereka berbincang-bincang.
Ibu : akhirnya engkau benar-benar akan pergi anak ku (saling memeluk dan mengeluarkan air mata, kata perpisahan yang hendak mereka ucapkan seolah tertahan dan hanya linangan air mata seolah menjadi saksi bisu perpisahan seorang anak dan Ibunya)
            Tak lama kemudian mobil yang akan ditumpangi Sumarni telah datang. Sumarni mengambil semua barang yang akan dibawanya. Dan untuk perpisahan ia mencium tangan Ibunya.
Sumarni : Ibu jaga diri, jaga kesehatan Ibu, jangan paksakan diri Ibu untuk bekerja. Aku sangat sayang pada Ibu. (sumarni pergi)
­­­            Dengan sejuta impian yang ada dibenak Sumarni, ia pun melangkah dengan pasti disertai dengan keteguhan hati, dan rasa sayang yang teramat mendalam kepada Ibunya ia siap menghadapi segala rintangan yang mungkin akan ditemuinya nanti dikala ia sedang menuntut ilmu. Doa restu sang Ibu menjadi kekuatan besar dalam dirinya sehingga ia percaya suatu saat nanti ia dapat memberikan kebahagiaan kepada Ibu yang sangat dicintainya. Dalam perjalanan ia terus mengingat Ibunya, mengingat segala pengorbanan Ibunya, mulai dari ia dilahirkan, kenakalan-kenakalan masa kecilnya namun Ibunya tetap ikhlas untuk memberikan kasih sayang yang tulus layaknya seorang Ibu. Air mata Sumarni tak mampu ia bendung, ia sangat sedih meninggalkan Ibunya seorang diri. Baru kali ini Sumarni berpisah jauh dengan Ibunya.
            Setelah menempuh perjalan yang cukup lama dan panjang, Sumarni pun akhirnya tiba di terminal kota. Salampe juga telah tiba diterminal beberapa menit sebelumnya. Tidak lama kemudian mereka bertemu ditempat yang telah disepekati.
Salampe: akhirnya kamu tiba dengan selamat. Bagaimana dengan  Ibu, pasti ia sangat sedih karna melihat kepergian mu. (lalu mereka menuju ke rumah kost Salampe)
            Tak lama kemudian mereka pun sampai. Semua barang bawaan Sumarni, disimpan sementara dikamar kost Salampe sambil menunggu kamar kost untuk Sumarni. Mereka berdua berada dikompleks kost yang sama, jarak dari kampus pun tidak terlalu jauh. Dengan begitu Salampe menemani adiknya untuk mengambil formulir.
Sumarni : kakak aku berniat untuk mengambil jurusan kesehatan karna itu sudah menjadi cita-cita ku.
Salampe : ia, saya akan mengantarmu ke tempat pengambilan formulir jurusan kesehatan. Tapi kakak tidak bisa menemani kamu lama karna kakak juga punya kuliah.
Sumarni : ia kak.
            Ditengah pembicaraan mereka datang seorang lelaki yang menghampiri Salampe dan menyapa Salampe.
Kordoba : halo Bos, pacar baru lagi Bos ku? (Sumarni tersenyum sinis dan sangat heran mendengar sapaan orang itu kepada kakaknya)
Salampe : sembarang ko bilang adekku ini, baru datang.
Kordoba : oh adek ta Bos, tidak ku tau ki kodong. Bagaimana sebentar jadi ji?
Salampe : apa sebentar kah? Kuliah toh?
Kordoba : bukan Bos kira mauki ke kampus 2? (Salampe langsung menghentikan percakapannya dengan Kordoba karna ia takut ketahuan kelakuan yang sebenarnya selama ini)
Salampe : masuk mi ambil formulir, saya juga mau ma ke kelas ku.
            Salampe pun meninggalkan Sumarni, ia dan Kordoba pergi ke tempat yang ia rencanakan. Kampus dua yang ia maksud bukanlah kampus yang sebenarnya melainkan tempat perkumpulan Salampe dan teman-temannya.
            Beberapa bulan kemudian akhirnya ia pun tahu bagaimana kakaknya yang sebenarnya. Uang yang dikirim oleh Ibunya beberapa hari yang lalu ternyata bukanlah dipergunakan untuk kebutuhan kuliah melainkan Salampe hanya mempergunakannya untuk berpoya-poya dengan teman-temannya.
Sumarni : kakak saya ingin bertanya?
Salampe : ia, ada apa?
Sumarni : beberapa bulan sudah saya kuliah di sini, namun ada hal yang sangat ingin saya ketahui langsung dari kakak?
Salampe : katakana saja.
Sumarni : aku mendengar kalau kakak sebenarnya adalah preman kampus ini, kakak sangat jarang masuk kuliah, kakak hanya nongkrong dengan teman-teman kakak dikampus dua yang teman kakak maksud, kakak menghambur-hamburkan uang. Saya khawatir uang yang Ibu kirimkan kepada kakak waktu itu kakak juga hanya menggunakannya untuk poya-poya?
Salampe : itu bukan urusan kamu, urus saja kuliahmu sendiri.
Sumarni : kakak sama sekali tidak memikirkan ibu, ibu sudah membanting tulang hanya untuk kita kuliah supaya berhasil. Aku kecewa dengan kakak, rupanya kakak mengabaikan pesan dari ayah.
Salampe : sudah kubilang itu bukan urusanmu. (salampe langsung meninggalkan adiknya)
            Di tempat lain ternyata Kordoba dan Asis berselisih paham. Dendam lama antar ke dua kelompok ini muncul lagi. Salampe mandapat informasi dari temannya yang lain bahwa Alan ingin menantang Salampe. Dengan emosi yang sangat tinggi akhirnya Salampe menemui Alan dan langsung menghajarnya, tanpa pikir panjang. Tawuran antarmahasiswa pun terjadi.
            Pengelolah kampus yang mengetahui hal ini bahwa telah terjadi tawuran mahasiswa langsung turun tangan dan melerai ke dua pihak Salampe dan Alan. Akibat membuat keributan Salampe diberi sanksi oleh pihak kampus skorsing selama 1 minggu dengan  teman-temannya yang ikut tawuran.
            Suasana belajar dikelas Sumarni…
Dosen : assalamu alaikum….
MS: waalaikumussalam.
Dosen : saya dengar kemarin ada tawuran, bagaimana itu bisa terjadi ? saya sebagai dosen mata kuliah Etika dan Budi Pakerti sangat prihatin.
Juminten : ia, Bu. Kakaknya Sumarni.
Kasmah : memang kakaknya Sumarni tapi itu tawuran kemarin tidak ada ji hubungannya sama Sumarni.
Juminten : ia tapi kakaknya, pasti ada ji juga sedikit sifat seperti kakaknya.
Kasmah : ko kenapa kah? Benci sekali sama Sumarni? Sedangkan orang kembar lagi masih beda ji sifatnya.
Dosen : sudah mi, jangan sampai ko lagi yang tawuran di sini. (meredakan suasana)
Sumarni : diam mki Kasmah, biar mi.
Dosen : ia, selanjutnya saya beri tugas untuk membuat makalah berjudul “Pentingnya Etika”… dikerjakan secara berkelompok minggu depan di kumpul. Baik Ibu pergi dulu, untuk hari ini cukup sekian. Wassalam. (meninggalkan ruangan)
Mahasiswa 1,2,dan 3 (teman baik juminten):
Mahasiswa 1: 1 klompok maki jimintan di’
Mahasiswa 2:saya mau ka satu kelompok sama sumarni deh karena lebih pintar ji sumarni dari pada juminten.
Mahasiswa 3:ia deh saya mau ka juga satu kelompok sama sumarni karena juminten nasuru jaki terus membayar makalah,orang kaya bede’  baru politik pedagang na pake biar uang 500 na tagi teruski. Gaya na ji.
sahabat juminten:ih tidak ada ji paksa ko mau satu kelompok sama juminten.rakyat jelata kam seupai
kasma:sudah mi jangan maki bertengkar terserah dari kalian mau masuk di kelompok mana.
            Satu minggu ke depan,kampus Putra bangsa mengadakan pagelaran seni yang menampilka berbaga kreatifitas mahasiswanya.
Beberapa saat kemudian pegelaran telah selesai,tiba-tiba ponsel sumarni bordering dan mendapat kabar dari kampunnya.
Tetangga sumarni: ass. Alkum bisa bicara dengan sumarni?
Sumarni:ia,saya sendiri.
T.sumarni:nak,ibu mu skrng sakit parah kalau bisa kamu harus pulang sekarang.
            Sumarni pun langsung menutup telponnya dan berlari-lari mencari kakaknya
Sumarni: kakak kita harus pulang sekarang kerena ibu sedang sakit parah di kampung.
Sumarni dan kakaknya bergegas langsung pulang kekampunnya
Beberapa jam kemudian sumarni dan kakaknya telah sampai di rumahnya,tampa mengetuk pintu rumahnya sumarni langsung menemui ibunya di kamar yang sedang terbaring lemas.
Sumarni:ibu…..janganki tinggalkan ka,ibu harus kuat demi ke 2 anak mu ibu,siapa lagi yang akan mengurusi kami ber 2 kalau ibu pergi.
            Mendengar pembicaraan ke dua anaknya ibu membuka matanya dan memanggil2 kedua anaknya
Ibu:anakku salampe jika ibu telah tiada maka jagalah adikmu baik2,dan kamu sumarni haru mendengar perkataan kakakmu selama itu baik.
Sumarni:ibu jangan berkata begitu,ibu harus sembuh dan melihat kami ber 2 berhasil.
Salampe :ia ibu,maafkan aku selama ini aku tidak pernah membahagiakan ibu.
            Hanya itu yang sempat di katakana ibu sumarni,ia pun langsung meregang nyawa di pangkuan ke 2 anaknya.
            Dua bersaudara tersebut yang baru saja di tinggal oleh ibunya menangis sejadi-jadinya.
Setelah beberapa hari melewati mengalami duka yang sangat mendalam kini ia harus berjuang untuk kelangsunga hidupnya kedepan.
Sumarni :kakak sekarang kita tinngal ber 2 ibu dan ayah telah tiada,sekarang kata tidak punya apa2 lagi saya harap kakak bisa berubah dan tidak mengulangi kesalahan kakak yang lalu.
Salampe :ia adikku saya sangat menyesal dengan kelakuanku yang lalu,saya janji tidak akan mengulanginya lagi.
            Akhirnya salampe bisa merubah sikap buruknya yang lalu dan  kedua bersaudara tersebut berhasil telah mencapai gelar sarjananya.sumarni pun mendapat tawaran kerja di salah satu Rumah sakit swasta sebagai general menejer.dan salampe pun membuka usaha yang cukup terkenal di daerahnya.

Readmore »» “Mengejar Matahari”
Bacaan Selanjutnya - “Mengejar Matahari”

Puisi, Pantun dan Teka-teki suku Bugis

Puisi, Pantun dan Teka-teki suku Bugis

Oleh M aan Mansyur

KEBESARAN epos-mitos La Galigo telah membunuh banyak genre sastra klasik Bugis. La Galigo yang diduga sebagai karya sastra terpanjang dalam sejarah sastra dunia itu terlalu banyak menyedot perhatian kritikus, peminat dan peneliti seni. Mereka, para peminat dan peneliti seni itu, lupa bahwa begitu banyak karya sastra Bugis lain yang menarik untuk diperbincangkan.
BANYAKNYA ragam genre sastra Bugis bisa dibaca dalam satu bab The Bugis, buku hasil penelitian Christian Pelras selama puluhan tahun di tanah Bugis. Selain jumlahnya yang diperkirakan sampai 2.500.000 karya, kualitas karya-karya itu juga sangat layak untuk jadi bahan kajian. Sebuah tulisan Roger Tol di jurnal KITLV edisi 148-1 (1992: 82-102) memaksa tulisan ini lahir. Roger Tol membahas sebuah genre puisi Bugis, élong, dalam tulisan tersebut. Tulisan ini akan membicarakan ulang satu jenis élong yang sangat unik yakni élong maliung bettuanna, puisi teka-teki yang harus menggunakan rumus tertentu agar bertemu jawabannya. Menurut Salim (1990:3-5), sedikitnya ada 14 jenis élong yang bisa dibedakan menurut isi (content), peristiwa (occasion) di mana lagu itu nyanyikan dan terakhir sifat-sifat formalnya (formal peculiarities).
Ada élong yang secara khusus membicarakan perihal keluarga, agama dan hiburan semata. Sejumlah lainnya dipentaskan pada peristiwa-persitiwa khusus, semisal élong madduta (lagu melamar) dan élong osong (lagu perang). Ada juga élong, seperti puisi klasik Jepang, haiku, yang terdiri dari aturan-aturan baris dan jumlah silabel. Lainnya, terdapat élong yang rangkaian huruf awalnya membentuk nama-nama hari. Keunikan-keunikan itulah yang membuat élong bisa menjadi media untuk melakukan permainan bahasa seperti yang juga akan dibahas dalam tulisan ini. Macam-macam élong bisa ditemukan dalam beberapa buku, beberapa di antaranya adalah Salim (1969-71, 1990), Sikki (1978:277-323), dan paling komprehensif adalah koleksi élong yang dikumpulkan oleh pionir pengkaji Bugis dan Makassar, Matthes (1872a:370-409, 1883) .
Tak berbeda dengan pantun, élong sekaligus bisa menjadi sastra lisan dan tulisan. Nama élong (secara harafiah berarti ‘lagu’) sendiri menunjukkan bahwa puisi ini awalnya adalah sastra lisan. Dalam sejarahnya kadang-kadang élong memang dipertunjukkan atau dinyanyikan dengan iringan instrumen seperti biolin dan suling, meskipun juga sering tanpa iringan apa-apa (Sikki, 1978:xi). Dulu, élong bahkan sering dijadikan sebagai salah satu jenis lomba—sambil berpesta pora minum tuak dan makan melimpah.
Sebelum akhirnya hilang dari kehidupan keseharian orang Bugis, élong masih digunakan dalam prosesi melamar, di mana dua kelompok, masing-masing dari pihak laki dan perempuan, saling melempar bait-bait élong hingga hadirnya kesepakatan pernikahan. Semakin lihai kelompok pelamar menggubah bait-bait élong, semakin besar peluang lamarannya diterima. Hal seperti itu tak lagi bisa ditemukan di daerah Bugis sekarang ini. Hampir selalu, status dan harta menjadi faktor paling menentukan diterima atau tidaknya sebuah lamaran. Di daerah Bone, Pinrang dan Sidrap, misalnya, orang tua seorang gadis bisa saja meminta uang ratusan juta sebagai syarat pernikahan.

Menyembunyikan Maksud di Balik Tiga Lapis Sarung

NAMPAKNYA seperti dikatakan oleh dua baris akhir sebuah soneta Shakespeare, so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee, orang Bugis sejak lama telah menyadari signifikansi puisi. Misalnya saja dengan membuat aturan-aturan tertentu untuk memahami sebuah bait élong maliung bettuanna. Aturan-aturan khusus itulah yang membuat genre puisi ini menjadi sangat unik dan menarik. Tidak saja dalam élong maliung bettuanna, tetapi begitu banyak karya-karya penting, pendek maupun panjang, ditulis menggunakan puisi.
Tak banyak peminat dan sarjana sastra yang membahas jenis puisi élong maliung bettuanna mungkin dikarenakan dua faktor penting yang sama-sama susah dipahami; matra dan archaic vocubulary yang digunakan. Secara harafiah, élong maliung bettuanna berarti ‘lagu yang dalam maknanya’ (maliung berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’). Dengan kata lain, élong ini adalah puisi dengan makna tersembunyi. Sebagaimana jenis élong lain, élong maliung bettuanna pun menggunakan simbol, matra dan bentuk khas. Tetapi jenis élong ini memiliki satu perbedaan yakni penggunaan crypto-language yang sangat khas yang disebut Basa to Bakke’.
Basa to Bakke’ secara harafiah berarti ‘bahasa orang-orang Bakke’’. Sebenarnya penamaan ini merujuk kepada seseorang bernama Datu Bakke’, Pangeran dari Bakke’, yang dikenang karena kecerdasan dan keintelektualannya. Nama orang ini banyak disebut-sebut dalam literatur sejarah Bugis, utamanya Soppeng. Bakke’ sendiri adalah nama sebuah daerah di Soppeng, Sulawesi Selatan. Bisa terjadi kesalahpengertian di sini, sebab seolah-olah ada bahasa lain selain bahasa Bugis yang digunakan dalam puisi Bugis ini. Sehingga sesungguhnya Basa to Bakke lebih cocok diartikan sebagai permainan bahasa Bakke’.
Basa to Bakke’ menjadi ciri khas dalam puisi teka-teki Bugis atau élong maliung bettuanna ini. Sangat berlainan dengan pantun teka-teki yang hanya menggunakan simbol untuk menyembunyikan jawaban, teka-teki élong maliung bettuanna tersembunyi di balik tiga lapis sarung. Untuk tiba pada makna sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh penulisnya, tiga lapis sarung itu harus disingkap satu per satu.

Kalau tuan bawa keladi

Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk di hidung ?
Bandingkan pantun di atas dengan sebuah teka-teki a la puisi Bugis yang dikutip dari Tol dkk (1992:85) berikut ini:

Kégana mumaberrekkeng,

buaja bulu’édé,
lompu’ walennaé?

(Mana lebih kau suka,

buaya gunung,
atau lumpur sungai?)
Tentu tak susah menemukan jawaban teka-teki pantun di atas. Pantun itu adalah teka-teki Budi di buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk murid Kelas III Sekolah Dasar zaman orde baru. Tetapi bagaimana menemukan ‘jawaban’ teka-teki Bugis di atas? Sebenarnya puisi itu ingin menyampaikan makna: ‘mana lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’.
Bagi yang paham aksara Bugis, tentu masih ingat bahwa aksara Bugis memiliki beberapa keunikan dibandingkan, misalnya, dengan aksara Latin. Aksara Bugis, sebagaimana kebanyakan aksara di Asia, memiliki kecacatan. Kekurangan yang sekaligus bisa jadi kelebihan itu di antaranya adalah tidak adanya huruf mati (final velar nasals), glottal stop, dan konsonan rangkap (geminated consonants). Aksara Bugis, nyaris sama dengan aksara Jepang, setiap hurufnya adalah satu suku kata (syllabel). Satu silabel dalam aksara Bugis bisa dibaca dengan berbagai cara. Contohnya, huruf untuk silabel ‘pa’ bisa saja dibaca /pa/, /ppa/, /pang/, /ppang/, /pa’/, atau /ppa’/. Keunikan aksara Bugis inilah yang dieksplorasi oleh permainan Basa to Bakke’ dalam élong maliung bettuanna.
Dalam satu élong yang disebutkan tadi, sarung pertama yang harus disingkap untuk menemukan jawabannya telah dilakukan dengan memperlihatkan arti puisi itu. Langkah pertama itu adalah mengidentifikasi pernyataan (frase). Ada dua frase dalam puisi itu yang harus diperhatikan, buaja bulue’édé dan lompu’ walennaé. Buaja bulu’édé berarti ‘buaya gunung’ dan lompu’ walennaé berarti ‘lumpur sungai’.
Setelah mengidentifikasi pernyataan, langkah kedua adalah menemukan apa rujukan dari frase yang telah ditemukan. Dalam penyingkapan sarung kedua ini, memang sangat erat kaitannya dengan pengetahuan dan alam pikiran budaya Bugis. Buaja bulu’édé (buaya gunung) dalam budaya Bugis merujuk kepada macang (macan) dan lompu’ walannaé (lumpur sungai) menunjuk kepada kessi’ (pasir).
Jika hanya sampai di sini, puisi itu akan berarti ‘mana yang lebih kau suka, macan atau pasir?’ Tentulah ini akan menjadi sebuah pernyataan yang tidak logis. Tetapi memang bukanlah itu yang sesungguhnya ingin disampaikan puisi tersebut. Masih ada satu lapis sarung yang harus disingkapkan. Di tahapan inilah permainan bahasa tadi digunakan. Dalam tulisan aksara Bugis, kata macang (macan) sama dengan macca’ (cerdas) dan kessi’ (pasir) sama dengan kessing (elok atau cantik). Masing-masing ditulis /ma-ca/ (ingat, tak ada final velar nasals dan geminated consonant dalam aksara Bugis) dan /ke-si/ (ingat juga tak ada glottal stop).
Akhirnya makna puisi itu menjadi ‘mana yang lebih kau suka, (perempuan) cerdas atau (perempuan) cantik?’.
Perhatikan satu contoh lagi berikut ini:

Gellang riwata’ majjékko,

Anré-anréna to Menre’é,
aténa unnyié.

(Tembaga melengkung di ujung,

makanan orang Mandar,
hati kunyit.)
Puisi teka-teki yang berarti ‘aku mencintaimu’ ini bisa disingkap jawabannya dengan cara yang sama. Gellang riwata’ majjékko merujuk kepada méng (kail), anré-anréna to Menre’é merujuk kepada loka (pisang)—konon Orang Bugis dulu menganggap makanan pokok orang Mandar adalah pisang, dan aténa unnyié merujuk kepada ridi (kuning). Jika tiga kata itu dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi /me-lo-ka-ri-di/. Rangkaian huruf ini bisa juga dibaca mélo’ ka ridi yang artinya ‘aku mencintaimu’.
Tiga lapis sarung itu bisa diuraikan lebih rinci seperti berikut; sarung pertama, mengenali frase yang menyimpan kiasan atau sampiran dan bunyi. Dalam puisi di atas, setiap barisnya menyimpan masing-masing satu frase untuk mengenali sampiran itu; gellang riwata majjékko, anré-anréna to Menre’é, dan aténa unnyié. Sampiran dari frase itu, secara berurutan masing-masing; méng (kail), loka (pisang), dan ridi (kuning). Lapis kedua adalah bunyi méng, loka, dan ridi. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis sarung selanjutnya untuk menemukan makna (isi), bunyi meng dalam aksara Bugis ditulis /me/, bunyi loka ditulis /lo-ka/, dan bunyi ridi ditulis /ri-di/. Untuk menemukan makna élong semua bunyi itu dirangkai menjadi /me-lo-ka-ri-di/. Rangkaian bunyi itu jika dibaca menjadi mélo’ka ridi yang maknanya ‘aku mencintaimu’.
Jika dalam pantun baris pertama-kedua adalah sampiran dan baris ketiga-keempat adalah isi, maka dalam élong maliung bettuanna bunyi (lapis kedua) yang menjadi sampiran sekaligus petunjuk untuk masuk ke lapis selanjutnya yaitu isi.
Jika disederhanakan, rumus tiga lapis sarung untuk menyingkap makna élongmaliung bettuanna di atas bisa menjadi: (1) frase, (2) bunyi, dan (3) makna.
Lihat contoh berikut ini:

Inungeng mapekke’-pekke’

balinna ase’édé,
bali ulu balé.

(Minuman pekat,

kebalikan atas,
kebalikan kepala ikan.)
Setelah melalui proses penyingkapan makna, puisi ini berarti ’saya tak suka padamu’. Makna itu ditemukan dari rangkaian kata téng, awa, dan ikko yang jika dituliskan dengan aksara Bugis menjadi /te-a-wa-(r)i-ko/, ‘aku tidak mau atau benci padamu’. Frase élong itu adalah inungeng mapekke-pekke, balinna ase’édé, dan bali ulu balé. Bunyi yang dihasilkan frase itu adalah téng (teh), awa (bawah), dan ikko (ekor). Bunyi ini jika dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi /te-a-wa-(r)i-ko/. Rangkaian aksara Bugis itu bisa juga terbaca téawa (r)iko, ‘aku tak suka padamu’.
Vopel (1967:3) mengatakan bahwa kemungkinan puisilah bahasa paling rumit di dunia ini. Disebut paling rumit karena puisi menghendaki kepadatan (compactness) dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau lebih luas ketimbang bahasa sehari-hari. Kepadatan juga berperan sebagai pembangun dimensi lapis kedua seperti membangun kesan atau efek imagery, tatanan ritmis di tiap baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, atau hiperbolis terhadap pokok persoalan yang diangkat. Dan yang lebih penting juga adalah membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal dan atau di balik bentuk yang dipilih. Tuntutan-tuntutan semacam itu tentu lebih longgar pada genre lain seperti prosa (cerita pendek dan novel).
Selain puitis, élong maliung bettuanna juga memang kelihatan rumit dan berlapis-lapis. Namun jika menemukan rumusnya, puisi ini tidak akan serumit yang kita duga. Sungguh, alangkah pintar orang-orang Bugis (dulu) menyembunyikan maksudnya di balik berlapis-lapis sarung.

Permainan Bahasa, Kunci Jawaban

SEPERTI telah kita lihat, élong maliung bettuanna mengandung dua atau tiga pernyataan teka-teki. Jika kita telah menemukan rujukan yang ditunjuk oleh frase-frase itu, kita akan segera menemukan makna puisi—tentu saja jika paham bahasa dan aksara Bugis. Permainan basa to bakke’ memang menjadi kunci jawaban dari teka-teki dalam sebuah élong maliung bettuanna. Permainan bahasa inilah yang paling menarik dari jenis puisi ini, hal yang kemungkinan besar tak akan ditemui dalam puisi lain.
Sesungguhnya, dalam élong maliung bettuanna ada pola-pola umum permainan bahasa orang Bakke yang paling sering digunakan. Basa to Bakke biasanya menggunakan tiga macam topik dalam frasenya; 1) yang berhubungan dengan nama daerah atau tempat (geographical), 2) tentang tumbuh-tumbuhan (botanical), dan 3) tentang binatang (zoological). Memang ada beberapa pengecualian, tetapi ketiga topik itulah yang paling sering digunakan.
TERNYATA bahasa Bugis bisa menjadi permainan yang menarik. Keunikan bahasa seperti itulah yang membuat puisi Bugis menjadi berbeda dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski élong maliung bettuanna tak lagi pernah dipentaskan atau dituliskan, meliriknya kembali bisa menjadi alternatif.
Mengadopsi puisi Bugis ini bisa menjadi jawaban atas kejenuhan banyak kritikus sastra yang menganggap puisi modern Indonesia terperangkap oleh segelintir nama-nama besar, seperti Sapardi Djoko Damono, Suardji Calzum Bachri, Goenawan Mohamad dan Afrizal Malna. Kekuatan élong maliung bettuanna salah satunya adalah ketercapaian dan keseimbangan dua kekuatan, bentuk dan isi—hal yang semakin susah ditemukan oleh penyair-penyair Indonesia kontemporer. Tak banyak jenis puisi yang mampu mengawinkan bentuk dan isi seperti yang diperlihatkan oleh élong maliung bettuanna.
Selain aturan bunyi (fonologi) dan makna (semantik) yang telah dijelaskan di atas, sesungguhnya élong maliung bettuanna juga menarik untuk dilihat dari segi matra. Élong maliung bettuanna ini memiliki aturan matra, terdiri dari tiga baris dan tiap barisnya biasanya terdiri dari delapan, tujuh atau enam suku kata. Puisi-puisi Bugis seperti dijelaskan dalam Tol (1992:83) memiliki tiga jenis matra; pentasyllabic metre (seperti yang diperlihatkan dalam La Galigo), octosyllabic metre (seperti dalam teks puisi-puisi naratif Bugis) dan élong metre.

Meskipun memang rumit memahami genre ini, namun tetap terbuka banyak pintu untuk masuk dan menikmati élong maliung bettuanna, salah satunya melalui permainan bahasa. Permainan bahasa seperti Basa to Bakke’ yang telah dijelaskan dalam tulisan ini mungkin pula akan membuat, khususnya orang-orang Bugis, belajar dan mencintai kembali bahasa dan aksara Bugis. Selain tak berminat pada sastra klasik, orang-orang juga mulai tak meminati bahasa daerah.[]

Sumber >>>>>> http://www.ininnawa.org/article25.html

Referensi:

1. Fachruddin Ambo Enre, 1983, Ritumpanna Weelenrennge, telaah filologis sebuah Episode Bugis klasik, Jakarta: Universitas Indonesia.
2. Kennedy, J.X, 1991. Literaure: an Introduction to Fiction, Poetry and Drama, (Fifth Edition). New York: harper Collins Publisher.
3. Mattulada, 1985, Latoa; satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
4. Muhammad Salim, 1969-71, Transliterasi dan Terjemahan elong Ugi (kajian naskah Bugis), Ujung pandang: Departemen P dan K, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.
5. Muhammad Sikki, dkk, 1978, Terjemahan beberapa naskah lontara Bugis, Ujung Pandang: Balai Penelitian Bahasa.
6. Pelras, Christian, 2006, Manusia Bugis, Jakarta: Nalar.
7. Perrine, Laurence, 1974, Literatre: Structure, Sound and sense. (Second Edition). New York: Harcourt Brace Javanovisch Inc.
8. Rahman Daeng Palallo, 1968, ‘Bahasa Bugis; Dari hal elong maliung bettuanna (pantun jang dalam artinya)’, Bingkisan I.
9. Tol, Roger, 1992, ‘Fish Food on a Tree Branch; Hidden Meanings in Bugis Poetry’, Leiden: Bijdragen tot de Taal-, land- en Volkenkunde 148 : 82-102.
Tulisan lebih lengkap mengenai ini juga pernah dimuat di www.puisi.net dan www.panyingkul.com.
Readmore »» Puisi, Pantun dan Teka-teki suku Bugis
Bacaan Selanjutnya - Puisi, Pantun dan Teka-teki suku Bugis

Latihan Persiapan Malam Rama Tama Wisuda Mahasiswa Kebidanan STIKES Panrita Husada Bulukumba

Para sahabat-sahabat "PANRITA" laksana dewa di atas panggung hidup dengan semangat yang membara, Meski latihan pada malam hari itu, Tapi para sahabat PANRITA Tetap Semangat. Para sahabat PANRITA ini dengan giatnya menjalani aktifitas latihan "Pagelaran Seni" yang insya allah akan digelar pada malam ramah tama wisuda Mahasiswa Kebidanan STIKES Panrita Husada Bulukumba. yang akan dilaksanakan pada Jum'at, 18 Oktober 2012.
"Menggapai matahari" adalah sebuah cerita yang akan dipentaskan sahabat-sahabat PANRITA ini. "Menggapai Matahari" merupakan sebuah kisah dimana perjuangan seorang anak manusia dalam menuntut ilmu yang penuh dengan syarat perjuanagan yang tiada henti. Selain itu rencananya akan diselingi persembahan sebuah puisi yang akan dibawakan oleh sahabat-sahabat PANRAITA. Selain itu para adik-adik Mahasiswa Baru STIKES Panrita Husada Bulukumba akan turut menyuksesan acara tersebut.
Pagelaran ini merupakan sebuah persembahan bagi para kakak-kakak senior. 






Latihan yang dimulai pada 01 Oktober 2012 ini telah direncanakan dan disusun sebaik munkin agar pagelaran malam itu sukses dan dapat singgah di hati para hadirin. pagelaran ini merupakan pagelaran yang sekian kalinya sahabat-sahabar PANRITA merupakan aspreasi para mahasiswa kesehatan sebagai mahasiswa yang kelak akan menjadi ujin tombak menciptakan Indonesia Sehat.



Readmore »» Latihan Persiapan Malam Rama Tama Wisuda Mahasiswa Kebidanan STIKES Panrita Husada Bulukumba
Bacaan Selanjutnya - Latihan Persiapan Malam Rama Tama Wisuda Mahasiswa Kebidanan STIKES Panrita Husada Bulukumba

Rabu, 10 Oktober 2012

Naskah Drama "Kerajaan Sarung"


KERAJAAN SARUNG
                                                     (ADEGAN 1)
                                Nenek : Malam semakin larut, semakin dingin ,dan usiaku semakin bertambah. Aku semakin tua, malam demi malam kulewati tanpa suamiku hanya cucu-cucuku yang menemaniku. Cucu-cucuku mana yah…? Padahal kalo biasanya sudah berkumpul di tempat ini. Cu…cu…cu…cu… cucu….? Kamu dimana?
                                      Cucu 1 : iya, Nek !! aku disini.
                                      Nenek : yang lain mana..?
Cucu 2                         : aku disini… ada apa Nek?
Nenek                          : cu… ayo kesini berkumpul, Nenek mau cerita..!
Cucu 1                         : cerita apa Nek..?
Nenek                          : ada deh..!! tapi sebelumya tenang dulu yah…sebelum Nenek bercerita.
Cucu 2                         : ach…aku tidak mau mendengar Nenek yang sudah peot..!!
Cucu 3                         : hei..!! kau jahat sekali sama nenek.
Cucu 1                         : yah…betul !! kita harus patuh sama Nenenk.
Cucu 2                         : kalo memang dia sudah tua…
Nenek                          : sudahlah…tenang cucu-cucuku. Nenek sudah mau bercerita…
Cucu 4                         : yah…aku sudah tidak sabar mendengar cerita nenek.
Cucu 2                         : ah….aku tidak mau mendengar cerita Nenek. Aku mau menyanyi.
Nenek                          : yah…kalo begitu Nenek akan panggilkan kakak-kakak yang cantik dan gagah.
Cucu-cucu                   : horeeeee….. ie’ Nenek, kakak yang cantik-cantik nah..!!
Penyanyi                     : (menyanyikan lagu balonku dan cicak di dinding).
Cucu-cucu                   : Nenek…aku mau lagu cinta-cinta.
Nenek                          : yah-yah…kakak akan menyanyikannya.
Penyanyi                     : (menyanyikan lagu cinta-cinta)
Cucu 5                         : Nenek….nenek…. nddak mau ja’ saya lagu cinta-cinta. Mau ja’ saya ma’puisi.
Nenek                          : coba Nenek dengar, kamu mau baca puisi apa?
Cucu 5                         : Baca puisi (API)
Cucu 6                         : mau jugaka’ baca puisi nenek.
Nenek                          : coba….Nenek dengar kamu baca puisi.?
Cucu 6                         : (Kentut). Kentut…Suaramu begitu merdu bagaikan artis penyanyi dangdut. Hembusanmu bagaikan angin membawaku terbang melayang, keluar dari lubang yang keriput yang berbunyi put…put…puuuuutttttt….
Nenek                          : Ternyata, cucu-cucuku hebat-hebat yah !! Nah, sekarang giliran Nenek bercerita. Tapi, kalian harus janji pada Nenek.
Cucu-cucu                   : janji apaan, Nek?
Nenek                          : sepanjang nenek bercerita, kalian semua jangan ribut ya.. atau coddo’-coddo’. Janji..?
Cucu-cucu                   : Iya, Nek…!
Nenek                          : Nah, sekarang nenek mulai ceritanya.
Cucu-cucu                   : sebelum nenek cerita, judulnya apaan nek?
Nenek                          : Judulnya itu “KERAJAAN SARUNG”
Cucu-cucu                   : ok deh nek, ceritanya dimulai aja.! Karena ku tak sabar mendengarnya.
Nenek                          : pada suatu hari…disebuah kerajaan Sang Raja berbincang-bincang pada istri dan anaknya membicarakan masa depan kerajaannya.
(ADEGAN 2)
Raja                             : Istriku…istriku…istriku…engkau ada dimana dinda?
Istri Raja                     : aku disini kanda.
Raja                             : Anak kita dimana dinda?
Anak Raja                   : aku disini ayahanda.!
Raja                             : coba kesini anakku.
Anak Raja                   : iya..ayahanda!
Raja                             : kamu sedang apa nak?
Anak Raja                   : saya sedang membaca buku pelajaran ayahanda..!
Raja                             : Bagus-bagus, kelak kau akan menjadi pewaris ditahta kerajaan. Sudah sana tidur ini sudah larut malam.
Anak Raja                   : iya ayahanda.
Raja                             : Istriku….
Istri Raja                     : Iya, kanda..!!
Raja                             : Kemari, adinda harus mendidik anak kita agar menjadi anak yang berbakti.
Istri Raja                     : Iya kakanda.
Raja                             : Jendral sekarang ada dimana dinda..?
Istri Raja                     : Jendral ada di belakang kanda.
Raja                             : Jendral….jendral….
Jendral                         : Hamba Paduka, ada apa gerangan hamba di panggil menghadap ke paduka?
Raja                             : Bagaimana keadaan istana dan keamanan gerbang?
Jendral                         : Hamba Paduka, keadaan istana baik-baik saja. Hamba telah memilih pengawal yang dapat di andalkan.
Raja                             : Bagus-bagus.!! Kalau begitu laksanakan tugasmu.
Jendral                         : siap paduka !!
Raja                             : Istriku….ayo kita ke kamar.
Istri Raja                     : Iya kanda.
(ADEGAN 3)
Nenek                          : Disisi lain, Sang Raja tidak mengetahui niat jahat jendral dan istrinya yang ingin menguasai tahta kerajaan Sang Raja.
Cucu                            : Jadi Nek..? Kelanjutan cerita Kerajaan Sarung bagaimana?
Nenek                          : Setelah pertemuan Raja dan Jendral… Jendral tak sabarkan diri ingin cepat bertemu istrinya, untuk mengatur siasat jahatnya.
(ADEGAN 4)
Jendral                         : Haa….haa….haaa…. Dasar Raja bodoh. Dia tidak tahu kalau aku ini ingin tahta kerajannya. Haha…hahahhaaaa….
Istri Jendral                 : Hahaha…betul suamiku. Hahahaaaa…..
Jendral                         : Sebentar lagi saya akan menjadi Raja dan engkau istriku akan menjadi permaisuri di dunia.
Istri Jendral                 : Ia, aku sudah tidak sabar suamiku. Menjadi seorang permaisuri. Eitss….mana pengawalmu suamiku?
Jendral                         : Lambaco…Lambaco….
Lambaco                     : hamba paduka.
Jendral                         : weh…disini bodoh !!
Lambaco                     : hamba paduka.
Jendral                         : hamba..hamba..hanya hamba yang selalu kau ucapkan.
Lambaco                     : hamba paduka.
Jendral                         : Lambaco, kau akan ku beri tugas menjaga keamanan gerbang. Barang siapa yang berani masuk tanpa seizing kau dan saya. Seret mereka kau perlu musnahkan.
Lambaco                     : siap paduka.
Jendral                         : silahkan laksanakan tugasmu dengan baik.
Istri Jendral                 : we...we…Lambaco. cuci pakaian kotor yang ada di keranjang. Setelah itu jangan lupa kepasar belanja.
Lambaco                     : Huh…saya mi sedeng..!! Istri pemalas.
Istri Jendral                 : apa…? Apa kau bilang..?
Lambaco                     : Ti…ti…tidak…aku tidak bilang apa-apa.
Istri Jendral                 : Laksanakan tugasmu.
Lambaco                     : siap.!!
(ADEGAN 5)
Nenek                          : Di lain tempat Sang Pangeran sedang merenungkan nasibnya bersama pengawal setianya.
Cucu-cucu                   : Siapa pangeran itu, Nek?
Nenek                          : Pangeran itu adalah anak Raja yang diusir karena Pangeran terlebih dahulu mengetahui rencana Jendral dan pada saat itu dia mengadukan kepada Raja. Tetapi, Raja tidak percaya karena hasutan Jendral sebelumnya. Sampai-sampai Raja mengusir anaknya karena dianggap memfitnah jendral.
Cucu 1                         : Jadi, kenapa mi itu nasibnya pangeran kodong..???
Cucu 2                         : Dengar mi ceritanya nenek dulu…!!
Nenek                          : Nah.!! Disini pangeran mulai berfikir bersama pengawalnya untuk kembali ke kerajaan dan membongkar kejahatan Jendral.
(ADEGAN 6)
Pangeran                     : Mengapa nasibku malang seperti ini.? Mengapa Ayahanda tega mengusirku dari kerajaan. Padahal aku adalah satu-satunya putra ayahanda penerus kerajaan.
Pengawal Pangeran     : Begini Pangeran…
Pangeran                     : Begini bagaimana..???
Pengawal Pangeran     : begini…kalo boleh aku bicara. Begini Pangeran..!!
Pangeran                     : Hei…apa yang kau mau bicarakan, kenapa it uterus ji yang kau ucapkan “Begini” sebentar “begini” mi seng.
Pengawal Pangeran     : Ecececececeeh…. Inimini saya terus ji yang disalahkan.!! Sebentar-sebentar saya lagi yang salah. Nddak sadar itu Pangeran kalau nasibku sama dia sama ji. Cuma dia Pangeran, saya budaknya ji kodong.
Pangeran                     : Apa.?? Apa kamu bilang, BUNTU..??? Aku ini Pangeran, putra Raja pewaris kerajaan.
Pengawal Pangeran     : Begini Pangeran, karena saya ini kodong setiap mau ka bicara selalu dipotong. Tidak sadar ki Pangeran aku ini pengawal setiamu Pangeran.
Pangeran                     : Ia BUNTU… Apa yang kau mau bicarakan. Silahkan.!!
Pengawal Pangeran     : Begini Pangeran, saya tahu bahwa pangeran adalah satu-satunya putra Raja dan pewaris tahta kerajaan. Bagaimana kalau kita kembali kekerajaan dan  membongkar semua rahasia jendral.
Pangeran                     : wahh… Terkadang otakmu jalan juga yah.!! Kamu jadi pintar. Kau betul-betul pengawalku yang setia.
Pengawal Pangeran     : Ialah Pangeran, kalo begitu kapan kita berangkat ke kerajaan?
Pangeran                     : Tahun depan… yah sekaranglah BUNTU.!!! Eitsss, sudah jako itu mandi?? Kita ini mau ke Istana bertemu Ayahanda dan Ibunda.
Pengawal Pangeran     : Belum pi Pangeran.
Pangeran                     : Ececececeeh…..sudah seharian kau belum mandi??? Kau itu Pengawal Pangeran. Apa kata DUNIA.???????
Pengawal Pangeran     : Kita iyya pangeran, sudah tong jaki mandi??
Pangeran                     : Hustt, jangan ko ribut BUNTU. Belum pi juga.!! Hah, lupakan mi itu. Ayo kita ke istana. (pergi dan meninggalkan pangawalnya)
Pengawal Pangeran     : tunggu ka Pangerannnn……
(ADEGAN 7)
Nenek                          : Pangeran telah menuju ke istana. Dan di kamar, Jendral telah melanjutkan rencana busuknya bersama istrinya.
(ADEGAN 8)
Jendral                         : Selangkah lagi aku akan berhasil menjadi Raja karena beberapa tahun yang lalu kita telah berhasil menyingkirkan Pangeran. Hahahahaaa….
Istri Jendral                 : Ia suamiku…. Jadi, rencana selanjutnya apa yang akan dilakukan?
Jendral                         : Begini saying, saya akan menyingkirkan Raja dengan berbagai cara.
Istri Jendral                 : Baiklah suamiku, aku sudah betul-betul tidak sabar menjadi Ratu di istana yang megah ini.
Jendral                         : tenanglah istriku, kalo begitu mari kita jalankan dengan penuh waspada.
Istri jendral                  : Ia suamiku.
Jendral                         : kalo begitu aku pergi dulu yah..!!
(ADEGAN 9)
Nenek                          : sedangkan diruang keluarga istri raja dan anaknya membicarakan Pangeran.
(ADEGAN 10)
Anak 1                        : Ibunda, mengapa Ayahanda tega mengusir pangeran?
Anak 2                        : Ia Ibunda, padahal hanya kakaklah satu-satunya putra dan pewaris tahta kerajaan kita.
Istri Raja                     : itu semua karena ulah Jendral yang mempengaruhi ayahnda kalian.
Anak 1                        : Jadi, Ibunda sebenarnya tahu tentang kejahatan Jendral.??
Istri Raja                     : Ia anakku, aku tahu. Tapi aku takut pada Ayahandamu karena dia begitu tegas dan terlalu percaya pada jendral. Tapi yakin saja semua kejahatan dan kebohongan tidak begitu lama bertahan. Pasti suatu saat nanti akan terbongkar.
Anak 2                        : Ia Ibunda. Tapi, aku sangat merindukan kakanda.
Istri Raja                     : sabar anak-anakku, kakakmu pasti pulang dan membongkar kejahatan jendral.
(ADEGAN 11)
Nenek                          : Tiba-tiba istri Jendral langsung masuk dalam pembicaraan istri Raja dan anaknya. Dengan begitu sombong dan angkuhnya dia tidak sadar mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dia katakana kepada istri Raja dan akhirnya kejahatan mereka sudah mulai terbongkar.
Cucu 1                         : Jadi tamat mi riwayatnya ini Jendral dan istrinya, nenek?
Cucu 2                         : He…ini suka minting coddo’-coddo’ iyya.
                                      Tenang mako nu dengar tonji itu ceritanya nenek.
Nenek                          : Tapi biar istri Jendral mengeluarkan kata-kata kasar, istri Raja tetap sabar.
(ADEGAN 12)
Istri Jendral                 : Owh…owh…owh…rupanya ada rapat keluarga disini.??!!
Istri Raja                     : Tidak, kami hanya bicara tentang kakaknya.
Istri Jendral                 : Oh..jangan mimpi bahwa kakakmu akan kembali. Asal kamu tau, sebentar lagi suamiku akan menjadi raja dan istana yang megah ini menjadi milikku dan kau akan disingkirkan.
Istri Raja                     : appaaa…??
Istri Jendral                 : ti..tidak, aku tidak berkata apa-apa.
Istri Raja                     : sungguh kamu tega ingin melakukan ini semua?? Tak sadarkah engkau bahwa masih ada Tuhan yang melindungi hamba-Nya. Aku akan sampaikan kepada Raja. Apa bila kau tetap ingin melakukannya.
(ADEGAN 13)
Nenek                          : setelah itu mereka masing-masing pergi menemui suaminya. Dan pangeran sudah sampai di gerbang. Pangeran pun kaget melihat banyak perubahan di istana.

(ADEGAN 14)
Pengawal Pangeran     : Pangeran, akhirnya kita sudah sampai.
Pangeran                     : Ia, kita bias istirahat dan makan-makan apa yang kita mau. Tidak seperti di hutan.
Pengawal pangeran     : Betul pangeran aku sudah tidak sabar masuk ke istana.
Pangeran                     : hei…!! Kau ini pengawal. Kau harus di belakangku.
Pengawal Pangeran     : Baik Pangeran..
                                      Tunggu dulu pangeran, rupanya sudah ada patung di gerbang. Siapa yang memasangnya? Tapi mukanya kaya’ asli pangeran.
Pangeran                     : wei..kampungan.!! itu bukan patung. Itu manusia.
Lambaco                     : I nakke mi inni LAMBACO penja gerbang.
Pengawal Pangeran     : ahaahaa..haaa… Lambace.?!
Lambaco                     : I nakke mi inni Lambaco penjaga gerbang. Siapa-siapa yang ingin masuk harus melapor sama saya. Biar Presidan, biar siapa I nakke mi inni Lambaco.
Pengawal Pangeran     : Ee…eee..nu tau ji ini?? Dia adalah Putra Raja.
Lambaco                     : Putra Raja….?? Ahaaahaa…haaaa… pakaianmu seperti itu mengaku anak Raja.??? Anak pengawal atau kau anak yang tak di anggap.
Pangeran                     : kau bilang apa Lambaco..???
Lambaco                     : anak yang tak di anggap.
Pangeran                     : kau telah membangunkan SINGA dari tidurnya.
Lambaco                     : kau juga belum tahu, kau telah membangunkan BITO-BITO dari tidurnya.
Pangeran                     : kalau begitu mari kita selesaikan masalah ini.
Lambaco                     : ayo….
Pengawal Pangeran     : tunggu Pangeran, biar saya yang menghadapi.
Lambaco                     : ayo..keluarkan semua jurus kacang-kacangmu…
(ADEGAN BERKELAHI)


(ADEGAN 15)
Nenek                          : dalam perkelahian, Lambaco pun terkalahkan dan kembali melapor ke Jendralnya yang sedang berbincang-bicang bersama istrinya.
(ADEGAN 16)
Istri Jendral                 :Maafkan aku suamiku..?!
Jendral                         : hei…ada apa ini. Kaya’ setan saja yang disambar gledek.
Istri Jendral                 : Maafkan aku suamiku..
                                      Aku tidak sengaja mengatakan yang sebenarnya kepada istri Raja.
Jendral                         : Apa kamu bilang.???? Sangat bodoh kau. Kau akan menggagalkan semua rencana kita.
Istri Jendral                 : Maafkan aku suamiku.
Jendral                         : aku sudah memaafkanmu.
                                      Kalau begitu secepatnya aku harus pergi menghadap kepada Raja.
Lambaco                     : Pak bos……pak bos……pak bos…..
Jendral                         : Ada apa lambaco.??
Lambaco                     : Begini tuan…ada 2 orang yang mengaku sebagai Pangeran di gerbang.
Jendral                         : terus, kemana orang itu.????
Lambaco                     : dia berhasil masuk tuan dan mengalahkan saya dalam peperangan.
Jendral                         : sungguh…kalian semua bodoh. Yang satu keceplosan dan membongkar semua rencanaku, yang satunya lagi membebaskan pangeran masuk ke istana.
Lambaco                     : Dia sangat kuat tuan.
Jendral                         : begini, secepatnya aku harus pergi menemui Raja dank au berdua pergi menggagalkan pangeran.
(ADEGAN 17)
Nenek                          : sang Jendral pun cepat-cepat lari dan menemui Raja. Lalu melaporkan masalh gerbang.
(ADEGAN 18)
Raja                             : Ada apa Jendral.?
Jendral                         : Hamba paduka. Lapor paduka ada 2 orang yang berani masuk ke istana ini dan mengalahkan pengawalku. Dia sangat kuat.
Raja                             : Siapa dia? Dan sekarang dia ada dimana?
Jendral                         : dia mengaku sebagai pangeran paduka.
                                      Sekarang dia ada diluar paduka.
Raja                             : kalau begitu ayo kita kesana dan mengusir orang itu.
(ADEGAN 19)
Nenek                          : Di luar istana pangeran bersama pengawalnya sudah bertemu Ibunda dan adiknya.
(ADEGAN 20)
Pengawal Pangeran     : Pangeran, itu bundamu bersama adikmu.
Pangeran                     : Ia.. bunda….
Istri Raja                     : anakku… aku sangat merindukanmu.
Pangeran                     : Ia, aku juga sangat rindu kepada Ibunda.
Anak Raja                   : Ia, kakanda… aku juga sangat merindukan kakak.
Pangeran                     : Bunda… mana ayahanda??
Istri Raja                     : Dia ada di dalam, nak.
Pangeran                     : Bunda, ada yang perlu saya sampaikan kepada bunda. Bahwa sebenarnya aku diusir dari istana ini gara-gara jendral yang jahat itu.
(ADEGAN 21)
Nenek                          : dan tiba-tiba, Raja, Sang jendral, Lambaco, dan istri jendral dating dan memotong pembicaraan Pangeran dan Ibundanya.
(ADEGAN 22)
Istri Raja                     :Ia nak, Bunda sudah tau itu semua.
Raja                             : rupanya kau anak durhaka yang selalu memfitnah Jendral.
Jendral                         : Usir dia paduka. Dia adalah anak yang tidak mau mengembangkan istana.
Istri Raja                     : tunggu kanda. Anak kita tidak bersalah, melainkan orang yang kanda percaya ternyata musuh dalam selimut.
Raja                             : Betulkah itu dinda.??
Anak Raja                   : Ia ayahanda, tadi aku sendiri mendengar semua
Raja                             : Jendral, ternyata kau semua yang melakukan ini semua !!
(ADEGAN 23)
Nenek                          : Jendral pun ketahuan dan tiba-tiba Jendral menikam Raja dari belakang dengan badiknya, dan mengakui semua rencana busuknya.
(ADEGAN 24)
Jendral                         : Ia, semuanya aku yang melakukan.
Raja                             : mengapa kamu tega melakukan ini semua jendral.??
Jendral                         :karena aku ingin menjadi raja dan menguasai istana ini. Haa..hahaahaa..haa…
(ADEGAN 25)
Nenek                          : Pangeran pun tidak terima kematian ayahandanya dan membunuh Jendral.
(ADEGAN 26)
Pangeran                     : kau telah membunuh Rajamu sendiri, kau juga harus disingkirkan di muka bumi ini.
Jendral                         : Haahaaahaaa… Apa kamu bilang.???
                                      Ini tak semudah apa yang kau bayangkan.
Pangeran                     : kalo begitu ayo kita buktikan. Ayo…
(ADEGAN BERKELAHI ANTARA JENDRAL DAN PANGERAN BEGITU PULA PARA PENGAWAL MEREKA DAN JENDRAL BESERTA PENGAWALNYA TERKALAHKAN)
Istri Jendral                 : kalian telah berhasil membunuh suamiku. Kini giliranmu permasyuri raja yang aku singkirkan. ( berlari dan menikam istri raja, namun istri jendral pun terbunuh oleh pengawal Pangeran )
(ADEGAN 27)
Nenek                          : pada akhirnya, Cuma pangeran dan adiknyalah yang bertahan hidup. Lalu, mereka pun memulai hidup baru dan membangun kembali Kerajaan Sarung.

~BERSAMBUNG~


Readmore »» Naskah Drama "Kerajaan Sarung"
Bacaan Selanjutnya - Naskah Drama "Kerajaan Sarung"