Minggu, 09 Desember 2012

Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – W. S. Rendra


Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta 
WS Rendra

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban
Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban
Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu
Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya
Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

Readmore »» Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – W. S. Rendra
Bacaan Selanjutnya - Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta – W. S. Rendra

Renungan


Mengapa Tuhan menciptakan makhluknya berbeda-beda, mengapa mesti ada yang kuat ada yang lemah, mengapa mesti ada yang kaya ada yang miskin, mengapa mesti ada yang tampan dan cantik, dan mengapa mesti ada yang baik dan buruk.
          Coba liat goresan pena, bundar, bersih, tampa ujung dilihat dari mata kita, pada sehelai kertas putih. Di lihat dari segi mana pun tampak sama, rapi, bersih.
Tuhan menciptakan dunia ini dengan sedemikian rupa dan bentuk, kita sebagai makhluknya yang paling sempurnah di muka bumi ini patut bersyukur akan nikhmatnya, menjaga apa yang dititipkanya kepada kita.
Tuhan menciptakan dunia dan seisinya, dengan kodrat dan tugas masing-masing, bumi yang diciptakan berputar siang malam tampa henti, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, matahari menerangi dunia tampa henti baik itu siang maupun malam.
Tuhan memang maha besar dan maha pencipta, semua telah ditata dan di susun sedemikian sempurnahnya. Tapi mengapa mesti ada bencana, kematian, hambatan, cobaan, bagi makhluknya ?
Dan manusia diciptakan beragam perbedaan yang pada dasarnya sama. Hitam dan putih, miskin dan kaya, tinggi dan pendek, tampan dan cantik, bukankah itu hanya fisik semata?.
Kita sebagai makhluk tuhan perlu berpikir, apa yang telah kita berikan kepadanya ?, apakah kelak dia akan menagih apa yang dia berikan kepada kita ?, pernakah kita berpikir andai Tuhan mengambil apa yang ia berikan kepada kita ?.                 
Readmore »» Renungan
Bacaan Selanjutnya - Renungan

Formulir Sanggar Seni Panrita

Readmore »» Formulir Sanggar Seni Panrita
Bacaan Selanjutnya - Formulir Sanggar Seni Panrita

Rabu, 05 Desember 2012

Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik


Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik – Suku Ammatoa di Kajang memang menyimpan begitu banyak cerita bagi setiap pengunjungnya. keberadaannya yang cukup jauh dari kota membuat masyarakatnya masih menganut sistem tradisional baik dari segi ritual keagamaan ataupun sosial kehidupannya.

Etnis Amma Toa berada di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Letaknya kurang lebih 40 km sebelah timur Kota Bulukumba. Keunikan budayanya sudah terdengar hingga ke seluruh penjuru dunia. Keunikan ini pula yang membuat Kajang tiap tahunnya dibanjiri wisatawan mancanegara.


Orang Ammatoa betul-betul memegang teguh kitab lontara itu. Pasang ri Kajang menyimpan pesan-pesan luhur. Yakni, penduduk Tana Toa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan. Orang Ammatoa juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, dan tawakal. Pasang ri Kajang juga mengajak untuk taat pada aturan, dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya.



Masyarakat adat Ammatoa tinggal berkelompok dalam suatu area hutan yang luasnya sekitar 50 km. Mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang mereka yakini.


Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila kita memasuki kawasan ammatoa pakaian kita harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber kehidupan.
Suku Kajang dalam lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk kajang luar yang tinggal di luar perkampungan. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter. Dalam bahasa bugis Konjo yang kental merupakan bahasa suku yang selama ini sebagai media komunikasi antar sesama masyarakat suku kajang.
Salah satu model rumah yang berada dalam kawasan adat Ammatoa modelnya tampak pada gambar diatas, kehidupan yang begitu sederhana, jika masuk ke dalam rumah hal yang pertama dilihat adalah dapur, rumah model ini tidak memiliki teras atau beranda dan di dalamya tidak memiliki kamar tidur. Rumah Adat Suku Kajang bila kita melihat secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masayarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya
Bukan hanya itu segi pakaian pun cukup berbeda yang dikenakan oleh orang asli Ammatoa yang keseluruhannya berwarna hitam seperti terlihat pada foto disamping
Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh Laki-Laki, penutup kepala disebut Passapu dan sarung yang biasa juga disebut Tope Lelleng (sarung hitam)
Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh kaum perempuan yang smuanya juga berwarna hitam.
Begitu banyak Kebudayaan yang dimiliki oleh Masyarakat Bugis Makassar sudah sepantasnya lah kita melestarikan kebudayaan tersebut. Suku Kajang salah satu dari sekian banyaknya budaya nusantara yang masih kental akan adat istiadatnya
BULUKAMBA - Waktu masih menunjukkan sekira pukul 05.00 Wita, namun ratusan warga berpakaian serba hitam memasuki benteng yang merupakan tanah adat suku  Ammatoa Kajang, di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Baju serba hitam itu merupakan ciri khas suku Ammatoa Kajang yang dinekanakan laki maupun perempuan. Dinginnya udara subuh, seakan tak dirasa. Di tangan mereka nampak sesajian berupa dedaunan yang sudah dikemas.

Ritual Pattasi Jera atau membersihkan makam di kawasan tanah adat merupakan prosesi wajib yang rutin dilaksanakan suku ini setiap tahunnya. Ritual ini sudah dilaksanakan turun-temurun sejak ratusan tahun silam, sejak Ammatoa pertama di Kajang. Acara ini dilakukan untuk menghargai dan mendoakan para arwah nenek moyang, maupun keluarganya yang dikubur di tempat itu.

Seluruh keluarga suku Ammatoa Kajang wajib menjalani ritual ini, baik mereka yang bermukim di luar Bulukumba, seperti Sinjai, Makassar, dan lainnya. Di kawasan Benteng ini terdapat makam Ammatoa Kajang, Bohe Tomi. Di sekeliling makam Ammatoa terdapat ribuan kuburan dengan nisan terbuat dari batu kali yang dijajar apik.



Luas kawasan pemakaman tersebut sekira dua hektare. Uniknya, kawasan ini banyak ditumbuhi tumbuhan liar dan pohon bambu, sehingga suasananya seperti di dalam hutan.

Prosesi ritual Pattasi Jera' dibuka langsung oleh Ammatoa Kajang serta seluruh pemangku adat Tanah Toa. Setelah itu baru dilakukan oleh suku lainnya. Kuburan yang wajib diziarahi atau dibersihkan terlebih dahulu adalah kuburan Ammatoa pertama, kemudian menyusul makam para pemangku adat serta makam masyarakat lainnya yang ada di dalam kawasan tersebut.

"Pattasi Jere' wajib dilakukan, karena ini rangkaian dari ajaran dari Ammatoa Kajang terdahulu yang kemudian diturunkan kepada suku lainnya di tanah adat," kata juru makam, Puang Bate (53), Selasa (29/5/2012).

Tokoh Masyarakat Suku Kajang, Hasanuddin, mengatakan ritual Pattasi Jera sudah dilaksanakan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Prosesi ini sebagai rangkaian ajang patuntung yang selama ini masih dipegang teguh masyarakat Kajang meski tidak bermukim lagi di kawasan tanah adat.

Seluruh masyarakat Kajang yang bermukim di kawasan tanah adat, sambungnya, memfokuskan diri melaksanakan ritual yang dilangsungkan selama satu hari.

"Seluruh aktivitas wajib dihentikan karena ini bagian dari ajang turun-temurun nenek moyang kita," ujarnya.

Menurut seorang pemuda Kajang, Asdar, budaya ini harus dilestarikan oleh seluruh masyarakat Kajang. Sebagian masyarakat Kajang saat ini sudah modern sehingga sangat gampang melupakan budaya yang harus tetap dilestarikan.

"Seiring terkikisnya tatanan budaya, saya harapkan kepada para generasi muda Kajang harus bersatu memertahankan budaya yang sudah mulai terkontaminasi oleh budaya modern," harapnya.

Readmore »» Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik
Bacaan Selanjutnya - Budaya Ammatoa Kajang Yang Unik

Kajang, Kebudayaan yang masih terjaga.

Minggu pagi, tepatnya Minggu 2 Desember 2012 Mahasiswa STIKes Panrita Husada Bulukumba rincinya anak keperawatan yang memilih mata pelajaran Seni mengadakan Penelitian tentang daerah Kajang. ini merupakan suatu perwujudan suatu perhatian akan budaya yang kini mulai menipis. 
di zaman sekarang ini adalah zaman milinium ucap anak gaul jaman ini....heheheheh....
Pada penelitian ini diikuti oleh 42 mahasiswa tingkat satu  dan 4 orang tingkat dua. dan di dampini oleh Ayahanda Agusriadi Maula yang sekaligus sebagai pembina Sanggar Seni "Panrita". 

adapun tujuan penelitian kali ini  untuk mengenal budaya daerah saat ini yang mulai terkikis. singkat saja, Kajang yang terkenal akan kekentalan budaya tradisional yang masih terjaga khususnya di Sulawesi-Selatan paling selatan khususnya Bulukumba. Daerah yang terkenal akan pakaian serba hitam ini dan memakai "passapu" (ikat kepala) dan tidak memakai alas kaki ini memiliki suatu kebudayaan yang berciri khas dan terjaga dengan baik. Masyarakat suku Kajang ini berbahasa "Konjo" dimana memiliki kesamaan dengan bahasa Makassar. pemimpin di suku ini di Sebut "Amma' Toa" (yang artinya bapak tertua) dan daerah itu sendiri dinamakan "Tanah Toa" yang berarti Tanah yang tua. wilayah ini memiliki ciri khas yang tidak ada samanya di dunia ini, dimana pada saat masuk diwajibkan memakai pakaian serba hitam, dan tidak memakai alas kaki. selain itu masih banyak pantangan-pantangan yang lainya. Selain itu daerah Amma' Toa ini memiliki 4 gerbang masuk, atau di sebut eppa' sulapa. Lebih detailnya pemilihan Amma' Toa (sebutan untuk seseorang yang di anggap raja) sangatlah berat, menurut juru bahasa Amma' Toa bahwa untuk menjadi seorang ammatoa  "nisse' mittoppi  kabattuanna tauwwa mange' rilino saggenna konni-konni" (artinya harus mengetahui asal usul manusia sampai sekarang). Tapi menurut pngakuan Amma Toa' sendiri bahwa  " anakku rie' mmo kuliah ri makassara" (Artinya : Anak saya ada yang sudah kuliah di makassar, yakni UNISMU). ini meruupakan bukti bahwa pendidikan saat ini adalah suatu hal yang perlu diutamakan meskipun ketradisional suatu budaya tergores oleh tajamnya silet zaman.

di dalam kawasan ini, aktifitas masyarakat masih terjaga akan aturan dan ketradisionalannya. dimana masih menggunakan peralatan tradisional, contohnya saja memasak memakai tungku kayu, dan tidak memakai kompor gas dan minyak yang saat ini ramai dibicarakan kontrofersialnya. selain itu masih menggunakan pakaian yang ditenun sendiri  yang memiliki ciri khas yakni hitam. 

Menurut sumber dari masyarakat Tanah Toa.
bahwa kenapa penduduk di daerah ini tetap mempertahankan budaya leluhur mereka   "punna tau'  sulu'  na nakaluppai ada'nna, garringgi tao' mate'i" (artinya : karena biasa orang-orang yang keluar dan melupakan adat dan leluhur mereka, biasanya mereka akan sakit dan bahkan akan meningggal dunia), ini merupakan suatu kepercayaan spiritual yang sangat di luar nalar dan mereka pegang teguh sampai saat ini.
dan memiliki perkampungan yang sangat tradisional dimana belum tersentu akan nikmatnya listrik, bukan karena pemerintah tidak memperhatikanya, karena mereka mempertahankan peraturan adatnya.

ghbhghggg




Foto-foto anak tingkat 1 dan Sanggar Seni "Panrita"

 

























Bagi sahabat-sahabat yang belum masuk fotonya hub 085-213-907-828  dan 089-617-556-311 atau datang langsung ke sekretariat Sanggar Seni Panrita Jl Pahlawan, Depan Lapas Kab. Bulukumba .....
Makasi, Salam Sukses....
Sanggar Seni Panrita.....Kreasi Tanpa Batas

 








Readmore »» Kajang, Kebudayaan yang masih terjaga.
Bacaan Selanjutnya - Kajang, Kebudayaan yang masih terjaga.

Sabtu, 27 Oktober 2012

WARISAN KEMERDEKAAN SEKS DARI MERPATI


WARISAN KEMERDEKAAN SEKS DARI MERPATI
            Kali ini, toko kita bukan manusia. Seekor merpati. Merpati cantik milik tetaangga. Bulunya indah. Putih berbintik hitam. Kalu tidak salah, dialah yang palingcantik diantara sekian puluh betina lainya. Wajarlah jadi rebutan. Aku tidak cemburu sebab ia bukan sainganku. Aku bukan merpati. Aku Cuma seorang manusia.
            Merpati itu memang cantik. Idaman bagi si jantan. Pergaulanya luwes, tidak pernah minder dan malu-malu. Sikapnya lincah, gallat, pandai merayu. Dia juga senang dirayu. Karena itu, sejak lama tidak perawan. Namanya juga burung dara, tapi ia tidak kenal selaput dara. Dunianya merdeka. Hanya kenal satu hukum alam. Undang-undang perkawinan, mana munkin ia tau. Aku sendiri tidak peduli. Karena aku belum kawin.
            Merpati itu punya seekor jantan. Setiap pagi kulihat mereka main cinta. Kalau tidak di atap rumah, mereka bercumbu di atas pagar. Caranya mirip-mirip manusia. Teknik cumbu-rayu pun mereka miliki. Bagai cerita dalam novel Nick Carter. Sentuhan harus punya sasaran. Sentuhan mesti berproses. Sentuhan tidak boleh kehilangan irama. Itulah seni. Seni warisan dari alam. Seni yang harus diberi suaka atas kehormatanya. Seni yang harus dibaringkan di atas formalitas etika kemanusiaan. Tapi itu bagi manusia.
            Tadi pagi, kedua merpati itu bercumbu lagi. Tidak di atap rumah. Atau di atas pagar. Tetapi di sini, di dekat jendela, tepat di depan mataku. Mereka bercumbu seperti biasa. Saling menikmati kemerdekaan mereka. Aku piker, ini keterlaluan. Sepertinya tidak ada kehidupan lain di sekelilingnya. Atau barangkali mereka juga berpikir bahwa toh aku Cuma seorang manusia ? atau munkin aku pula yang kelewat nyinyir mencampuri urusan mereka ?
            Di tengah keasyikan bercumbu, tiba-tiba kedua merpati itu tersentak. Mereka tampaknya menyadari kehadiranku. Sejenak mereka menghentikan permainanya kemudian serentak mengepakkan sayap. Terbang menuju kabel listrik, tidak jauh dari jendela. Di sana keduanya bertengger memandang tajam ke arahku. Ada gurat kebencian dari matanya. Sepertinya mereka berkata kepadaku:
“wahai manusia ! tak perlu merasa iri pada kami
Bukankah kami telah mewariskan kepadamu
Bagaimana bercinta di alam bebas?!”
~blk 1980~
Readmore »» WARISAN KEMERDEKAAN SEKS DARI MERPATI
Bacaan Selanjutnya - WARISAN KEMERDEKAAN SEKS DARI MERPATI

Senin, 22 Oktober 2012

Malam Ramah Tamah Wisuda STIKes Panrita Husada Bulukumba

Jum'at malam, 18 Oktober 2012 bertempat di Mall Mega Zanur, Bulukumba. Kampus STIKes Panrita Husada membuat event Malam Ramah Tamah Wisudawati DIII Kebidanan Rangkaian acara Wisuda pada pagi harinya, dimana saat itu diikuti sekitar 70 Wisudawati STIKes Panrita Husada. Event yang digelar untuk pertama kali ini yang merupakan Lulusan yang kepertama Mahasiswa DIII Kebidanan STIKes Panrita Husada.
Wisuda ini dihadiri oleh Ketua Yayasan STIKes Panrita Husada Drs Padasi, Ketua STIKes Panrita Husada Muriyati S.Kep., M.Kes., Serta Perwalian Bupati Bulukumba.
Ramah Tamah yang dihadiri kurang lebih 70 lulusan STIKes Panrita Husada yang dilaksanakan saat itu berjalan dengan Hikmat dan penuh Haruh  dikarenakan pada acara tersebut merupakan tempat yang terakhir kalinya untuk saling bertemu sejak bersama-sama menuntul ilmu selama 3 tahun. 
Acara yang dimulai tepat pukul 8 malam tersebut dibuka dengan tari kreasi yang dibawakan oleh Sanggar Seni Panrita.
Yang kemudian pemberian sambutan oleh Ketua STIKes Panrita Husada Muriyati S.Kep,. M.Kes. dimana sambutan ini pemberian ucapan selamat sekaligus arahan  bagi Lulusan Kampus STIKes Panrita Husada. dan mahasiswa yang menghadiri acara pada malam tersebut. 

Kemudian oleh Pihak Yayasan STIKes Panrita Husada Pak Idris Zaman. Arahan yang penuh canda tawa tersebut terasa sangatlah berkesang sekaligus sebagai pembelajaran untuk lebih baik lagi.

Dan yang terakhir pembacaan sambutan bupati bulukumba yang.

Setelah Pemberian sambutan, pada malam tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan Tater "Sanggar Seni Panrita" yang berjudul "Hitam Putih Mahasiswa". Penampilan tersebut merupakan persembahan kepada kakak-kakak senior yang telah lebih dulu sukses menyelesaikan kuliahnya.






Setelah pementasan tersebut kemudian ditutup dengan pembacaan Do'a oleh salah satu anggota BEM STIKes Panrita Husada.

Mudah-mudahan pada wisuda berikutnya semakin meriah, semakin lengkap dengan senior-senior lain yang lebih dulu sukses… Amin…

Foto-foto



Dosen STIKes Panrita Husada

Mahasiswa STIKes Panrita Husada

Wisudawati STIKes Panrita Husada

Wisudawati STIKes Panrita Husada

Wisudawati STIKes Panrita Husada

Mudah-mudahan pada wisuda berikutnya semakin meriah, semakin lengkap dengan senior-senior lain yang lebih dulu sukses… Amin…


Readmore »» Malam Ramah Tamah Wisuda STIKes Panrita Husada Bulukumba
Bacaan Selanjutnya - Malam Ramah Tamah Wisuda STIKes Panrita Husada Bulukumba