Selasa, 11 Juni 2013

Surat Absurd dari Bulukumba Untuk Bapak Presiden RI

Surat Absurd dari Bulukumba Untuk Bapak Presiden RI

Bulukumba, 11 Juni 2013
kepada yang terhormat
Bapak Presiden Republik Indonesia
di
Jakarta

salam sejahtera untuk kita semua, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan senantiasa mengevaluasi ibadah aktifitas keseharian kita, amin

Bapak Presiden SBY yang saya hormati, nama saya Andhika DM. saya seorang penduduk di sebuah desa yang bernama Bulukumba. Desa kecil di sudut kaki bagian bawah Pulau Sulawesi. Jika bapak pernah mendengar nama perahu tradisional Pinisi, di desa kamilah asal muasal perahu tradisional itu.

Bapak presiden, di desa kami sedang ada pertunjukan komedi tapi, bukan di atas panggung. tapi sebuah pertunjukan komedi yang dipertontonkan oleh kekuasaan, terkait dengan "Adipura". Piagam dan "Piala" adipura menjadi sangat populer dibicarakan di kampung saya ini. tentunya, selain tumpukan persoalan lain yang berkenaan dengan persoalan Korupsi alkes Rumah sakit, Konflik Agraria PT Lonsum yang telah puluhan tahun, dan juga persoalan KUR yang tak jelas ujung pangkalnya.

Bapak Presiden yang terhormat, terkait dengan Adipura ini, entah siapa dewan juri atau tim penilainya. kok bisa-bisanya kampung kami ini dapat piagam Adipura. sungguh ini sangat menyakiti perasaan kami. betapa tidak, desa yang penuh dengan sapi berkeliaran saat malam dan pagi hari, sampah bertumpuk sana-sini, pasar yang becek, bau dan kotor, sudut-sudut kota yang berlumut tak terurus, selokan yang berair hitam dan menjijikkan, kok bisa-bisanya dapat piagam Adipura? apakah ini sebuah kesengajaan? atau jangan-jangan, tim penilai itu rabun dan lupa bawa kaca mata saat mengunjungi kota kami? ini sungguh menyakitkan hati kami sebagai rakyat.

Bapak Presiden, sungguh, kami mulai tidak percaya dengan adipura. kami tidak percaya dengan prestasi-prestasi itu. jika bapak berpikir saya berdusta, saya memiliki banyak data, Foto dan bukti lain yang menyatakan dengan terang bahwa kota kami belum layak mendapat embel-embel adipura. Harusnya, bapak mengajarkan dengan baik tim-tim juri yang bapak kirim itu. bekali mereka dengan empati kemanusiaan, agar tak menyakiti sisi kemanusiaan kami dengan memberikan penghargaan adipura ke Bulukumba / kampung kami, sementara kami tahu bahwa itu adalah sebuah dusta kemanusiaan.

Tim juri yang bapak kirim, harusnya tahu, betapa di publik space Bulukumba, bahkan di kantor-kantor atau gedung pemerintah, toiletnya sungguh menyedihkan. itu pun jika ada. bayangkan pak presiden, di kota yang banyak tempat nongkrongnya itu, tolet umum tak tersedia. bayangkanlah bau pesing yang ada, sebab orang-orang yang nongkrong itu akan pipis sembarangan. belum lagi, hewan piaraan seperti sapi yang senantiasa berkeliling kota, buang air besar di tengah jalan.

Bapak presiden, kami ini orang kecil yang jauh dari istana. janganlah lagi menambah sakit hati kami atas kekecewaan kami kepada pemerintah sampai di ruang terkecil dalam hal pelayanan publik, yang menghadirkan kekecewaan dan ketidak percayaan dengan "adipura itu".

Bapak presiden, memberikan kami piagam "Adipura" dengan realitas ini, adalah sebuah hinaan kemanusiaan bagi kami. itu sama saja dengan mengiris lengan hati kami, lalu luka itu bapak tetesi dengan jeruk dan garam serta cabe yang pedas. Sungguh sangat absurd adipura itu.

Menuliskan surat ini, bapak presiden harus tahu, kami merasakan kepedihan yang luar biasa, kekecewaan yang menggunung dan rasa sakit hati tiada tara. Rasa sakit hati kami kepada bapak sungguh sangat tidak saya harapkan akan menjadi bola salju yang akan terus menggelinding dan mejadi bola-bola raksasa kemanusiaan yang akan menyedot dan meluluhlantakkan apa saja yang menghalanginya.

kami hanyalah rakyat kecil. kami hanya punya harapan. harapan itu telah kami hamparkan sebagai karpet merah untuk bapak jadikan sebagai titian dan alas kaki dalam berjalan. bapak harus melangkah hati-hati.jika saja harapan tu sobek atau pecah, kami tidak akan memiliki apa-apa lagi. ketika itu terjadi, mungkin hukum rimba akan tumbuh subur di hati kami, sebab keringat dan air mata kami akan memupuknya dengan sangat subur. Airmata dan keringat kesedihan kami akan menjadi humus-humus dendam terhadap kekuasaan.

Bapak presiden
mata dan hati kami tidak buta. kok bisa-bisanya bapak memberikan penghargaan kota bersih ke kota kami, sementara siang malam kami bernapas di sini menyaksikan mani. saya yakin bapak tidak suka berdusta.bapak tahu kan kemana pendusta itu akan ditempatkan di akhirat? dia akan ditempatkan dalam hati kami yang tersakiti. Adipura itu akan bersaksi di akhirat!
wassalam
dirimbun pohon sajak yang luka


Andhika Daeng Mammangka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar